STAINPress Reading and Writing Habit Building

June 22nd, 2010
stainpress-reading-and-writing1
ISBN: 978-979-3655-84-0

Penulis: Tim STAIN Press

Editor : Suwito, NS, M.Ag.

Dimensi: 16 × 24 cm, 83 hal.

Tahun terbit: Juni 2010

Harga: Call

Visi STAIN Press adalah “Mercusuar Intelektual Islam”, sedangkan misinya adalah 1) Menyediakan wadah publikasi hasil kreatifitas civitas akademika STAIN Purwokerto dan masyarakat umum kepada publik, 2) Membangun atmosfir akademik yang berkualitas dengan mengibarkan eksistensi lembaga pendidikan Islam dan penulisnya, 3) Membangun peradaban yang memiliki basis keadilan dan ketuhanan, melalui ide-ide yang dipublikasikan.

STAIN Press sebagai lembaga penerbitan di bawah naungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto sejak didirikan memiliki otonomi dalam mengambil inisiatif dan keputusan keredaksionalan (penerbitan)

STAIN Press sebagai lembaga penerbitan di bawah naungan STAIN Purwokerto menjadi unsur kelengkapan civitas akademika, yang secara kelembagaan hanya bertanggungjawab kepada Ketua STAIN Purwokerto.

warto what`s New , ,

Paradigma Politik NU

May 24th, 2010
paradigma_politik_nu_kecil
ISBN: 979-3477-59-8

Penulis: Ridwan, M.Ag.

Prolog: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U.

Editor Utama: Drs. Moh. Roqib, M.Ag.

Dimensi: 14 × 22 cm, 190 hal.

Tahun terbit: Juni 2004

Harga: Rp.35.000,-

Nahdlatul Ulama (NU) bisa dipahami sebagai jam`iyah atau gerakan sosial yang sulit dipisahkan dari dinamika politik nasional. Organisasi dengan basis komunitas santri terbesar tersebut menyebabkan aktivisnya seringkali terlibat di dalam kegiatan politik (praktis). Tujuan kenegaraan hingga partai politik hampir tidak mungkin mengabaikan kekuatan dan jaringan sosial jam`iyah ini. Dinamika NU seperti sebuah perahu yang mendayung diantara dua pulau, yaitu sebagai gerakan sosial dan aura politik yang melekat padanya. Karena itu, masa depan NU ditentukan kemampuannya menggunakan biduk secara tepat ditengah golongan politik nasional dan tuntutan sosial sebagai konsekuensi gerakan sosial.

warto Agama, Hukum, Pemikiran Islam, Populer , ,

Pendidikan Perempuan

May 24th, 2010
pendidikan_perempuan_kecil
ISBN: 979-9552-59-1

Penulis: Drs. Moh. Roqib, M.Ag.

Koordinator Editor: Suwito, M.Ag.

Dimensi: 14 × 20 cm, xxx + 190 hal.

Tahun terbit: Septembr 2003

Harga: Rp.35.000,-

Dengan membaca peta ideologi pendidikan, mudah meletakkan Athiyah al-Abrasyi sebagai pemikir pendidikan kritis. Melihat tema-tema pemikiran pendidikannya seperti pendidikan bagi kaum perempuan ataupun pendidikan untuk kebebasan dan keadilan, memudahkan kita memosisikan ideologi pendidikan Athiyah al-Abrasy, karena sesungguhnya persoalan ketidakadilan sosial, ekspolitasi kelas, diskriminasi gender adalah lebih merupakan kepedulian dari kaum pendidik kritis dan radikal dibanding pendidik konservatif dan liberal. Pandangannya terhadap perempuan dari subordinasi dan marginalisasi akibat ideologi diskriminatif yang dibuat oleh masyarakat di zamannya, sebagai cerminan dari tafsiran keagamaan masyarakat terhadap ajaran agama, mengesankan kepeduliannya persoalan ketidakadilan sosial, gugatan atas diskriminasi berbasis gender, dan persoalan kelas sosial. Sungguhpun demikian, masih banyak yang perlu ditelusuri lebih lanjut bagaimana Athiyah al-Abrasyi menerjemahkan pemikiran pendidikan kebebasan kaum perempuan itu kedalam metode pendidikan ataupun praktik pendidikan kritis yang membebaskan. Sesungguhnya persoalan besar yang sering kita jumpai justru adanya kesulitan banyak pemikir ataupun pengikutnya untuk membentangkan jembatan titian antara paradigma pemikiran pendidikan dengan praktik metode dan relasi guru-murid yang membebaskan di sekolah. Karena antara pemikiran teoritik pendidikan pembebasan erat kaitannya dengan metodologi pendidikan yang membebaskan dalam proses transformasi sosial menuju sistem sosial yang adil dan manusiawi, maka sekali lagi eksperimentasi perlu diimplementasi.
(Dr. Mansour Fakih)

warto Kependidikan, Pemikiran Islam ,

Kemahiran Berbahasa Indonesia 1

May 4th, 2010
bahasa-gabung
ISBN: 978-979-3655-80-2

Penulis: Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. & Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Editor: Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. & Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Dimensi: 16 × 24 cm, 188 hal.

Tahun terbit: April 2010

Harga: Rp.39.500,-

Buku seri pertama ini merupakan buku ajar yang membahas teori-teori kebahasaan, mulai dari konsep dan teori mengenai ejaan, kata, frasa, klausa, kalimat, hingga paragraf. Materi buku ini, yang didasarkan pada aspek teorisasi kebahasaan, didasarkan pada kenyataan bahwa setiap komunikasi yang bermediakan bahasa (baik tulis maupun lisan) bisa berjalan dengan baik apabila individu tersebut paham benar dengan aspek-aspek kebahasaan. Tanpa mempunyai pemahaman yang baik terhadap aspek kabahasaan ini, mungkin komunikasi bisa berjalan, tapi aspek komunikatifnya tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, penguasaan aspek kebahasaan menjadi syarat dasar untuk bisa menulis karya ilmiah dengan baik.

Materi mata kuliah bahasa Indonesia 1 ini lebih difokuskan pada komunikasi tulis, terutama dalam menulis karya ilmiah. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa menulis merupakan aspek keterampilan berbahasa yang paling tinggi dan harus diakui paling sulit. Budaya menulis pun menjadi identitas yang melekat pada kalangan akademisi dan intelektual. Oleh karena itu, mahasiswa dan keterampilan menulis menjadi dua hal yang tidak bisa lepas dengan menulis, mulai dari menulis makalah, tugas kuliah, laporan, sampai dengan penelitian tugas akhhir kuliah, yaitu skripsi.

warto Bahasa, Sastra , ,

Geometri dan Pengukuran (untuk PGMI dan PGSD)

May 4th, 2010
geometri-gabung
ISBN: 978-979-3655-79-6

Penulis: Ifada Novikasari, S.Si., M.Pd.

Mutijah, S.Pd., M.Si.

Editor: Rahmini Hadi

Dimensi: 14 × 21 cm, 208 hal.

Tahun terbit: Maret 2010

Harga: Rp.38.000,-

Buku ini disusun dengan tujuan untuk dapat menambah bahan ajar bagi dosen, dan menjadi acuan perkuliahan bagi mahasiswa calon guru untuk mata kuliah Geometri dan Pengukuran, dan secara umum buku ini dapat digunakan sebagai bahan perkuliahan mahasiswa S1 PGSD.

Garis besar isi buku ini mengulas tentang konsep-konsep bangun datar atau bangun berdimensi dua, dan bangun ruang atau bangun berdimensi tiga. Diawali dari pengenalan titik dan garis, pengukuran, pengenalan bangun, kemudian dilengkapi dengan pembelajarannya.

warto Kependidikan, Sains , ,

Hadis :Semenjak Disabdakan Sampai Dibukukan

May 4th, 2010
hadis-gabung1
ISBN: 978-979-3655-78-9

Penulis: Prof. Dr. H.M. Dailamy, SP.

Editor: Abdul Wachid B.S.

Dimensi: 14 × 21 cm, 388 hal.

Tahun terbit: Maret 2010

Harga: Rp.49.000,-

Hadis yang dalam perkembangannya identik dengan sunnah dan yang kemudian untuk menyebut sesuatu yang disandarkan kepada Nabi yang meliputi perkataan, perbuatan, baik sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul, memang sudah dikenal sejak nabi masih hidup. Diakui bahwa telah terjadi perbedaan persepsi antara ulama hadis dengan ulama fiqih dan atau ulama Ushul, disekitar kapasitas Nabi dalam kehidupan sehari-hari dan hubungannya dengan tugas sebagai Rasul Allah yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

Perbedaan pandan sebagaimana diatas, menjadikan pengertian hadis pada pandangan ulama hadis menjadi lebih luas dibanding pengertian hadis pada pandangan ulama fiqih maupun ulama ushul. Perlu kiranya dipahami, bahwa perbedaan pandang diantara ketiga kelompok ulama tersebut, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk bersepakat menamai “hadis” terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi.

warto Agama, Dakwah, Fiqh, Islam, Pemikiran Islam , , , ,

Budaya Jawa Mencipta Harmoni Sosial (resensi) *

April 22nd, 2010

Oleh: Muhammad Sabrang**

Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)
Penulis : Moh. Roqib
Pengantar : Ahmad Tohari
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : xv + 258 halaman

Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya demokrasi di Indonesia.

Buku “Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga. Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung (great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut, menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.

Salah simpul yang terus disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan, dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar, dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh keakraban dan keharmonisan.

Simpul berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian, ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.

Dalam mengikat kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada (rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.

Sementara dalam penciptaan kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya, dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji, dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game, bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.

Simpul-simpul tersebut dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama (Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah, budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.

*Dimuat di Kompas Online Tanggal 22 April 2010 pada rubrik Oase

sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/04/22/03090132/Budaya.Jawa.Mencipta.Harmoni.Sosial-14

**Pustakawan.

warto Pemikiran Islam, Populer, Sastra , , ,

Rendezvous Kekuasaan di Tepi Serayu

March 23rd, 2010

Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.

Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) , Geidurrahman El-Mishry (penulis Novel Bait-Bait Cinta), Gugun El-Guyani (Juara I Lomba Esay), Mahwi Air Tawar (Juara I Lomba Cerpen) dengan dimoderatori oleh Abdul Wahid, B.S, SS, M.Hum (dosen dan sastrawan).

Acara yang digelar di Auditorium STAIN Purwokerto hari Sabtu (14/3) kemarin merupakan puncak dari rangkaian acara tahunan “Lomba Cipta Esay dan Tulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia” yang digelar sekitar Januari 2009 silam. Gelaran tahunan itu dimeriahkan oleh sekitar 400 naskah cerpen dan 317 naskah Esay dari mahasiswa di penjuru tanah air. Berdasarkan penilaian yang dilakukanoleh tim juri : Ahmadun Yosi Herfanda, Heru Kurniawan, Ridwan,M.Ag, dan Abdul Wahid BS, SS, M.Hum, berhasil meraih juara pertama, Gugun El-Guyani, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Gugun menguraikan idenya dalam esay berjudul “Khilafah Versus Demokrasi : Relasi Antara Agama dan Kekuasaan” . Sedangkan untuk lomba cerpen, Mahwi Air Tawar berhak menjadi pemenang I dengan judul cerpennya “Pulung”. Mahwi juga tercatat sebagai mahasiswa UIN Kalijaga Jogakarta. Bersama 27 nominator lainnya, esay dan cerpen yang ada masing-masing dibukukan oleh Penerbit Grafindo Press yang bekerjasama dengan Obsesi Press Publishing.

Dalam bedah buku yang berjalan selama durasi kurang lebih 2 x 60 menit tersebut, perbincangan yang berjalan cukup meriah. Gus Nas (panggilan akrab KH. Nashruddin) mencoba mengungkapkan mengenai filosofi kekuasaan dalam Islam. Sempat diungkapkan juga kegelisahannya dalam melihat hal-hal normatif (simbolis) Islam saja yang kemudian kadang diadopsi oleh para pelaku-pelaku kekuasaan. Bahwa kekuasaan dan kepemimpinan itu berbeda dan harus dipahami, dan diharapkan mampu memaknai kekuasan bukan sebagai sebuah alat penindasan. Di sisi lain, Gugun El-Guyani yang juga aktivis KUTUB – Yogyakarta, menguraikan dengan gamblang mengenai pola kekuasaan pada zaman khulafaur rasyidin. Gugun juga mengkritisi gerakan-gerakan mahasiswa yang tak mampu memberikan bergaining position fragmen kekuasaan di bangsa ini.

Sementara Geidurrahman mencoba membedah beberapa karya cerpen dalam buku “Rendezvous Di Tepi Serayu”. Beliau mengungkapkan banyak mengenai Sastra Religius dan Permasalahannya. Bahwa sastrawan memiliki tanggungjawab yang begitu besar dalam pemasifan nilai pada masyarakat. Dalam perkembangan diskusinya, terdapat kontroversi perbedaan pendapat antara Geidurrahman dan Mahwi Air Tawar dalam penyikapan sastra Religius. Diskusi semakin meriah dengan partisipasi para audiens yang siang itu memenuh ruangan audit.

Acara itu masih berlanjut hingga malam penganugerahan pada pemenang dan nominator lomba Esay dan Cerpen. Nampak para nominator dan pemenang menikmati rangkaian acara yang diselenggarakan dengan apik oleh panitia. Event itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para nominator yang hadir dari berbagai universitas di Indonesia. Rembulan meredup di tujuh belas Rabiul Awal-pun menjadi pertanda akhir rangkaian acara di hari itu. Namun semangat tak akan meredup di masing sanubari untuk terus menghidupkan nyala lilin pena dalam peradaban. Semua harus tetap mengalir…seperti tarian arus serayu. Semoga. (Nta)

Sumber: http://hminews.com/event/rendezvous-kekuasaan-di-tepi-serayu/

warto Berita, Sastra , ,

Pancasila, Kekuasaan, dan Politisasi Agama dalam Negara Budaya Patron-Klien

March 23rd, 2010

Oleh Sayfa Auliya Achidsti ·

Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, kita selaku  individu maupun  kelompok tidak akan pernah bisa lepas dari hubungannya dengan negara. Negara selaku lembaga tertinggi dari suatu masyarakat yang mempunyai hukum legal mempunyai otoritas yang kuat untuk membuat dan memutuskan kebijakan serta mengarahkan tindakan dan mengatur rakyatnya.

Namun, meski negara adalah lembaga yang dapat mengatur dan memutuskan suatu kebijakan yang ditujukan kepada rakyatnya, dalam hal ini negara sendiri merupakan hasil “buatan tangan” dari rakyatnya itu. Negara menjadi semacam alat yang muncul karena konsensus tertentu sekumpulan masyarakat yang menghendaki suatu tujuan. Hal yang juga senada dilontarkan oleh Roger H. Soltau (1961) bahwa negara adalah alat dan kekuasaan (wewenang, otoritas) yang dapat mengendalikan suatu permasalahan atas nama masyarakat.

Oleh sebab itu, negara menjadi means (cara pencapaian) untuk memperoleh suatu tujuan bersama, yaitu sebuah kesejahteraan umum dari masyarakatnya dengan aturan-aturan dan pengaruhnya (kekuatan dan kekuasaan) yang mengikat.

Dengan pengertian seperti itu, maka kedudukan dan hubungan negara atas rakyat idealnya adalah sebagai tempat di mana terjadi pola interaksi aktif antarkeduanya untuk menghasilkan keputusan yang sanggup merepresentasikan semua golongan. Hal terakhir yang disebutkan inilah yang membutuhkan sifat “negara kuat” untuk muwujudkannya. Karena di dalam negara yang terbentuk, mengandung bermacam-macam kelompok (golongan) yang masing-masing dari mereka itu mempunyai suatu pemikiran dan kepentingan yang berbeda pula.

Tersebutlah Pancasila, sebagai dasar dan  falsafah hidup bernegara Indonesia. Pancasila yang tercetus dengan latar-belakang keragaman budaya dirasa pantas memperolah sebutan sebagai suatu anugerah. Hal ideal pada sila pertamanya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi landasan hidup dengan bertumpu pada aspek keagamaan. Kemudian diikuti dengan aspek moral, semangat nasional, toleransi dan kompromi, serta keadilan. Namun ternyata, Pancasila yang seharusnya menjadi ideologi bangsa ternyata hanya sebatas mitos.

Negeri Pewaris Pluralitas

Ini menjadi lebih berat terjadi pada negara-negara yang mempunyai tingkat keragaman yang cukup tinggi, karena dengan itu berarti kelompok dan golongan serta pemikiran dan kepentingannya akan lebih beragam pula. Khususnya di Indonesia, salah satu negara dengan tingkat kemajemukan  tinggi, hal itu terjadi lebih kompleks.

Baca selengkapnya : klik disini

warto Agama, Pemikiran Islam, Populer ,

Otokritik dan Pergulatan Nilai Demokrasi Indonesia (Dalam buku “Renaissans Indonesia” (STAINpress, 2009))

March 23rd, 2010

Oleh Sayfa Auliya Achidsti*

Indonesia, negara kepulauan nan subur dan elok ini rupanya telah menjadi perhatian dunia sejak lama. Dari sisi ini, terbukti, beberapa negara dari Eropa pernaha berebut untuk menginvasi dan menjajah negeri. Kekayaan alamnya menjadi aset penting yang bernilai ekonomi tinggi. Wilayah dengan banyak pulau ini pun mempunyai daya tarik tersendiri dari sisi budaya. Suku-suku yang teramat beragam disatukan dalam kesatuan bangsa dan membentuk sebuah negara bangsa.

Yang cukup menarik di sini adalah bagaimana wilayah yang terpisah laut dan mengisolasi penduduknya sehingga menimbulkan budaya-budaya tersendiri dapat menyatu baik secara administratif mapun psikologis? Hal yang amat mengagumkan mengingat hal ini berbeda sekali dengan proses terbentuknya negara lain pada umumnya.

Negara pada keadaan normal terbentuk sebab beberapa hal esensial. Yang pertama adalah kesamaan budaya. Hal ini jelas, karena tanpa adanya kesamaan budaya, suatu konsensus untuk membentuk sebuah negara akan mustahil atau paling tidak akan sangat sulit mencapainya. Yang dipengaruhi di sini mencakup beberapa aspek, seperti komunikasi antarmasyarakat atau kelompok, perbenturan adat dan ideologi, sentimen dan simpati, dan yang pada akhirnya menyentuh pada aspek kepentingan antarmasyarakat atau kelompok tersebut. Sedikit perbedaan ideologi dan bahasa saja misalnya, akan dapat dengan mudah memberikan nuansa perbedaan fundamen dalam semangat pembentukan negara baru.

Berikutnya, yang dapat mendorong terbentuknya sebuah negara adalah faktor luar seperti tekanan pihak luar atau penjajahan bangsa lain. Hal ini pada perkembangannya akan mempengaruhi kerjasama antarkelompok dan tentunya sedikit banyak akan mengikis kerasnya tembok adat dan budaya yang membatasinya. Kasus seperti inilah yang terjadi di Indonesia yang telah melewati masa-masa kolonial beratus tahun.

Penjajahan oleh bangsa lain yang menindas tersebut berimplikasi pada kesamaan pada sisi psikologi sebagai kaum terjajah. Berbagai gerakan perlawanan sporadis pun berkembang menjadi semangat untuk mengusir musuh bersama bangsa, yaitu penjajah.

Puncak perlawanan bangsa di nusantara terjadi menyusul kekalahan Jepang atas tentara sekutu dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota negara tersebut. Kaum muda mendesak untuk disegerakannya deklarasi kemerdekaan dan pada 17 Agustus 1945, Soekarno mengumandangkan proklamasi kemerdekaan dan sekaligus menjadi dasar semangat yang satu yaitu semangat berbangsa Indonesia.

Baca selengkapnya: klik disini

warto Populer , ,