Archive

Archive for the ‘Pemikiran Islam’ Category

Paradigma Politik NU

May 24th, 2010
paradigma_politik_nu_kecil
ISBN: 979-3477-59-8

Penulis: Ridwan, M.Ag.

Prolog: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U.

Editor Utama: Drs. Moh. Roqib, M.Ag.

Dimensi: 14 × 22 cm, 190 hal.

Tahun terbit: Juni 2004

Harga: Rp.35.000,-

Nahdlatul Ulama (NU) bisa dipahami sebagai jam`iyah atau gerakan sosial yang sulit dipisahkan dari dinamika politik nasional. Organisasi dengan basis komunitas santri terbesar tersebut menyebabkan aktivisnya seringkali terlibat di dalam kegiatan politik (praktis). Tujuan kenegaraan hingga partai politik hampir tidak mungkin mengabaikan kekuatan dan jaringan sosial jam`iyah ini. Dinamika NU seperti sebuah perahu yang mendayung diantara dua pulau, yaitu sebagai gerakan sosial dan aura politik yang melekat padanya. Karena itu, masa depan NU ditentukan kemampuannya menggunakan biduk secara tepat ditengah golongan politik nasional dan tuntutan sosial sebagai konsekuensi gerakan sosial.

Agama, Hukum, Pemikiran Islam, Populer , ,

Pendidikan Perempuan

May 24th, 2010
pendidikan_perempuan_kecil
ISBN: 979-9552-59-1

Penulis: Drs. Moh. Roqib, M.Ag.

Koordinator Editor: Suwito, M.Ag.

Dimensi: 14 × 20 cm, xxx + 190 hal.

Tahun terbit: Septembr 2003

Harga: Rp.35.000,-

Dengan membaca peta ideologi pendidikan, mudah meletakkan Athiyah al-Abrasyi sebagai pemikir pendidikan kritis. Melihat tema-tema pemikiran pendidikannya seperti pendidikan bagi kaum perempuan ataupun pendidikan untuk kebebasan dan keadilan, memudahkan kita memosisikan ideologi pendidikan Athiyah al-Abrasy, karena sesungguhnya persoalan ketidakadilan sosial, ekspolitasi kelas, diskriminasi gender adalah lebih merupakan kepedulian dari kaum pendidik kritis dan radikal dibanding pendidik konservatif dan liberal. Pandangannya terhadap perempuan dari subordinasi dan marginalisasi akibat ideologi diskriminatif yang dibuat oleh masyarakat di zamannya, sebagai cerminan dari tafsiran keagamaan masyarakat terhadap ajaran agama, mengesankan kepeduliannya persoalan ketidakadilan sosial, gugatan atas diskriminasi berbasis gender, dan persoalan kelas sosial. Sungguhpun demikian, masih banyak yang perlu ditelusuri lebih lanjut bagaimana Athiyah al-Abrasyi menerjemahkan pemikiran pendidikan kebebasan kaum perempuan itu kedalam metode pendidikan ataupun praktik pendidikan kritis yang membebaskan. Sesungguhnya persoalan besar yang sering kita jumpai justru adanya kesulitan banyak pemikir ataupun pengikutnya untuk membentangkan jembatan titian antara paradigma pemikiran pendidikan dengan praktik metode dan relasi guru-murid yang membebaskan di sekolah. Karena antara pemikiran teoritik pendidikan pembebasan erat kaitannya dengan metodologi pendidikan yang membebaskan dalam proses transformasi sosial menuju sistem sosial yang adil dan manusiawi, maka sekali lagi eksperimentasi perlu diimplementasi.
(Dr. Mansour Fakih)

Kependidikan, Pemikiran Islam ,

Hadis :Semenjak Disabdakan Sampai Dibukukan

May 4th, 2010
hadis-gabung1
ISBN: 978-979-3655-78-9

Penulis: Prof. Dr. H.M. Dailamy, SP.

Editor: Abdul Wachid B.S.

Dimensi: 14 × 21 cm, 388 hal.

Tahun terbit: Maret 2010

Harga: Rp.49.000,-

Hadis yang dalam perkembangannya identik dengan sunnah dan yang kemudian untuk menyebut sesuatu yang disandarkan kepada Nabi yang meliputi perkataan, perbuatan, baik sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul, memang sudah dikenal sejak nabi masih hidup. Diakui bahwa telah terjadi perbedaan persepsi antara ulama hadis dengan ulama fiqih dan atau ulama Ushul, disekitar kapasitas Nabi dalam kehidupan sehari-hari dan hubungannya dengan tugas sebagai Rasul Allah yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

Perbedaan pandan sebagaimana diatas, menjadikan pengertian hadis pada pandangan ulama hadis menjadi lebih luas dibanding pengertian hadis pada pandangan ulama fiqih maupun ulama ushul. Perlu kiranya dipahami, bahwa perbedaan pandang diantara ketiga kelompok ulama tersebut, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk bersepakat menamai “hadis” terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi.

Agama, Dakwah, Fiqh, Islam, Pemikiran Islam , , , ,

Budaya Jawa Mencipta Harmoni Sosial (resensi) *

April 22nd, 2010

Oleh: Muhammad Sabrang**

Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)
Penulis : Moh. Roqib
Pengantar : Ahmad Tohari
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : xv + 258 halaman

Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya demokrasi di Indonesia.

Buku “Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga. Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung (great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut, menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.

Salah simpul yang terus disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan, dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar, dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh keakraban dan keharmonisan.

Simpul berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian, ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.

Dalam mengikat kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada (rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.

Sementara dalam penciptaan kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya, dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji, dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game, bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.

Simpul-simpul tersebut dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama (Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah, budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.

*Dimuat di Kompas Online Tanggal 22 April 2010 pada rubrik Oase

sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/04/22/03090132/Budaya.Jawa.Mencipta.Harmoni.Sosial-14

**Pustakawan.

Pemikiran Islam, Populer, Sastra , , ,

Pancasila, Kekuasaan, dan Politisasi Agama dalam Negara Budaya Patron-Klien

March 23rd, 2010

Oleh Sayfa Auliya Achidsti ·

Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, kita selaku  individu maupun  kelompok tidak akan pernah bisa lepas dari hubungannya dengan negara. Negara selaku lembaga tertinggi dari suatu masyarakat yang mempunyai hukum legal mempunyai otoritas yang kuat untuk membuat dan memutuskan kebijakan serta mengarahkan tindakan dan mengatur rakyatnya.

Namun, meski negara adalah lembaga yang dapat mengatur dan memutuskan suatu kebijakan yang ditujukan kepada rakyatnya, dalam hal ini negara sendiri merupakan hasil “buatan tangan” dari rakyatnya itu. Negara menjadi semacam alat yang muncul karena konsensus tertentu sekumpulan masyarakat yang menghendaki suatu tujuan. Hal yang juga senada dilontarkan oleh Roger H. Soltau (1961) bahwa negara adalah alat dan kekuasaan (wewenang, otoritas) yang dapat mengendalikan suatu permasalahan atas nama masyarakat.

Oleh sebab itu, negara menjadi means (cara pencapaian) untuk memperoleh suatu tujuan bersama, yaitu sebuah kesejahteraan umum dari masyarakatnya dengan aturan-aturan dan pengaruhnya (kekuatan dan kekuasaan) yang mengikat.

Dengan pengertian seperti itu, maka kedudukan dan hubungan negara atas rakyat idealnya adalah sebagai tempat di mana terjadi pola interaksi aktif antarkeduanya untuk menghasilkan keputusan yang sanggup merepresentasikan semua golongan. Hal terakhir yang disebutkan inilah yang membutuhkan sifat “negara kuat” untuk muwujudkannya. Karena di dalam negara yang terbentuk, mengandung bermacam-macam kelompok (golongan) yang masing-masing dari mereka itu mempunyai suatu pemikiran dan kepentingan yang berbeda pula.

Tersebutlah Pancasila, sebagai dasar dan  falsafah hidup bernegara Indonesia. Pancasila yang tercetus dengan latar-belakang keragaman budaya dirasa pantas memperolah sebutan sebagai suatu anugerah. Hal ideal pada sila pertamanya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi landasan hidup dengan bertumpu pada aspek keagamaan. Kemudian diikuti dengan aspek moral, semangat nasional, toleransi dan kompromi, serta keadilan. Namun ternyata, Pancasila yang seharusnya menjadi ideologi bangsa ternyata hanya sebatas mitos.

Negeri Pewaris Pluralitas

Ini menjadi lebih berat terjadi pada negara-negara yang mempunyai tingkat keragaman yang cukup tinggi, karena dengan itu berarti kelompok dan golongan serta pemikiran dan kepentingannya akan lebih beragam pula. Khususnya di Indonesia, salah satu negara dengan tingkat kemajemukan  tinggi, hal itu terjadi lebih kompleks.

Baca selengkapnya : klik disini

Agama, Pemikiran Islam, Populer ,

Islam Dan Terorisme

February 25th, 2010
islamdanterorisme-3d-copy1
ISBN: 979-3896-143-7

Penulis: Bernando J. Sujobto M., Abdullah Badri,

Wahyu Choerul Cahyadi, Dkk.

Editor: Abdul Wachid BS.

Dimensi: 14 × 21 cm, 364 hal.

Tahun terbit: Februari 2010

Harga: Rp.45.000,-

Terorisme sendiri, yang dipahami sebagai aksi teror — bukan hanya secara pemikiran– bernuansa agama, ternyata lebih merupakan fenomena sosial. Dalam konteks ini, persoalan ekonomi sempat menjadi kambing hitam maraknya aksi teror yang dilakukan. Meminjam istilah sosiolog, Erfing Goffman, ketidakberdayaan ekonomi ini menyebabkan ketidakberdayaan dalamdramaturgi kehidupan. Belakangan, setelah diketahui bahwa beberapa faktor bunuh-diri dalam aksi radikalisme agama merupakan orang dengan latar belakang berada secara ekonomi, pendapat tersebut menjadi mentah kembali. Yang mengemuka adalah persoalan identitas. Dalam hal ini, rupanya persoalan pengakuan adalah satu hal fundamental mengapa sebuah tindakan, baik tindakan individu maupun –terlebih– tindakan kolektif dilakukannya.

Menjadi logis manakala yang menjadi pelaku bom bunuh diri adalah orang yang dalam kehidupan kesehariannya tidak mendapat pengakuan menurut porsi sibyektif dia. Dalam kelompok radikal, masing-masing individu dikondisikan dan perlahan menyesuaikan diri menjadi bagian dari kesatuan kelompok, yang kemudian menjadikan pola pikir koheren, dimana kelompok adalah kehidupan mereka. Proses ini menjadi semakin lancar disaat pada kehidupan “normal”-nya, standar pengakuan yang diinginkan tidak dia (mereka) dapatkan.

Agama, Dakwah, Islam, Pemikiran Islam, Populer ,

Model Pengembangan Ekonomi Pesantren

February 3rd, 2010
model-pengembangan-ekonomi-pesantren-kecil1
ISBN: 979-9659-81-0Penulis: Choirul Fuad Yusuf & Suwito, NS

Editor:

Dimensi:

Tahun terbit: Januari 2010

Harga: Rp.35.000,-

Aktifitas ekonomi adalah satu sarana untuk hidup sejahtera (hasanah) yang menjadi anjuran agama. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan ungakapn kada al-faqru an-yakuna kufran (kemiskinan mendekatkan apda kekufuran), maka pemikiran tentang pengembangan ekonomi adalah hal yang sangat penting.

Buku ini merupakan hasil penelitian yang difokuskan pada identifikasi model pengembangan ekonomi pesantren. Oleh karena itu, signifikansi buku ini menyangkut empat hal penting.

Pertama, dengan deskripsi tentang jenis, model, dan karakteristik pengembangan ekonomi pesantren tersebut, buku ini dapat digunakan oleh pesantren dan masyarakat lain yang memiliki kemiripan karakteristik sebagai replikasi model atau approach pengembangan ekonomi berbasis pondok pesantren. Replikasi tersebut meliputi: 1) replikasi teknik analisis potensi ekonomi pesantren yang kemudian melahirkan bidang garapan atau jenis usaha, teknik perekrutan dan pelatihan tenaga ahli (produksi dan pemasaran), 2) replikasi penerapan manajarial yang meliputi sistem/ mekanisme kerja, hubungan antar unit dan lembaga, serta teknik evaluasi dan jaminan mutu produk, 3) replika teknik networking, yang didalamnya adalah teknik perluasan jaringan dan pasar. Kedua, buku ini dapat digunakan oleh pemerintah (Pemda dan Departemen Agama) sebagai bahan untuk membuat kebijakan dan program pengembangan pondok pesantren. Ketiga, buku ini dapat digunakan oleh dunia usaha, baik BUMN, BUMD, maupun pihak swasta sebagai mitra dalam pengembangan sektor usaha riil terkait dengan perluasan usaha dan investasi. Dan keempat, deskripsi yang lengkap dalam buku ini dapat dijadikan salah satu sumber rujukan ilmiah yang sampai saat ini dirasa masih sangat terbatas.

Agama, Ekonomi, Islam, Muamalah, Pemikiran Islam, Populer, what`s New , , ,

Kepribadian Guru: Upaya Mengembangkan Kepribadian Guru Yang Sehat di Masa Depan

May 18th, 2009
kepribadian-guru-kecil
ISBN: 979-3896-112-4

Penulis: Drs. Moh. Roqib, M.Ag. & Nurfuadi, M.Pd.I.

Editor: Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Dimensi: 14 × 21 cm, 142 hal.

Tahun terbit: April 2009

Harga: Rp.37.000,-

Buku Kepribadian Guru ini hadir sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa khususnya mahasiswa kependidikan karena mereka yang akan menjadi guru ke depan juga mahasiswa pada umumnya, para guru, dan juga masyarakat pecinta pendidikan. Sebagai bahan bacaan, buku ini memberikan informasi tentang bagaimana ajaran, teori, dan konsep tetang guru yang berkepribadian sehat, kemudian bagaimana strategi mencetak guru-guru yang berkeprobadian ideal dan sehat itu dengan bantuan beberapa pendekatan yang ada dan perspektif Islam dengan mencoba menawarkan perspektif asma`ul husna dan sifat-sifat nabi. Meskipun buku ini telah diusahakan semaksimal mungkin memuat berbagai ajaran, teori dan konsep dari al-Quran dan Hadis sampai pada hasil temuan terkini seperti teori quantum, kami menyadari bahwa buku ini kurang dari cukup. Meski demikian, buku ini kami harapkan bisa melengkapi referensi yang selama ini ada dan memberikan wacana tambahan serta cenderung baru.

Islam, Kependidikan, Pemikiran Islam, Populer, Tarbiyah , ,

Mistisme Cahaya

May 18th, 2009
mistisme-cahaya-kecil
ISBN: 979-3896-111-5

Penulis: Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Editor: Suwito NS., M.Ag.

Dimensi: 14 × 26 cm, 236 hal.

Tahun terbit: April 2009

Harga: Rp.35.000,-

Cahaya dalam pengertian mistik berangkat pada surat an-Nur [24]:35, yang artinya sebagai berikut

Tuhan adalah cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Tuhan adalah seperti sebuah relung yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah Timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya saja (hampir-hampir) menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).

Arti cahaya dalam surah an-Nur adalah “sang cahaya” sebagai salah satu nama indah Tuhan (al-asmaul-husna). Cahaya Nur adalah cahaya ciptaan yang memancar dari Cahaya Tuhan Yang Tak Tercipta. Cahaya (an-Nur) merupakan cahaya yang terpancar dari Cahaya Tuhan Yang Tercipta, yang keberadaannya menyinari suatu obyek menjadi jelas dan terang sehingga mata manusia menjadi bisa melihatnya.

Pengertian cahaya diatas memperlihatkan cahaya sebagai suatu esensi yang berasal dari “Sang Cahaya”, yaitu suatu esensi yang tampak dengan sendirinya, dan juga membuat benda-benda sensual menjadi tampak. Cahaya inilah yang menyebabkan segala obyek wujud di alam semesta ini bisa terlihat karena cahayanya membuat mata bisa mengidentifikasi. Pengertian cahaya, inilah yang menjadi dasar dari pemaknaan cahaya dalam tradisi mistisme Islam, yaitu “cahaya yang membuat alam semesta berada” dan “cahaya yang membuat manusia mengada”. Dalam buku ini, dua filosofi Islam yang dibahas pemikirannya dalam memaknai mistik cahaya adalah al-Ghazali dan Surahwardi.

Islam, Pemikiran Islam, Populer, Sains, Sastra , , , , ,

Kekuasaan dan Agama

May 18th, 2009
kekuasaan-dan-agama-kecil
ISBN: 979-3896-105-1

Penulis: Gugun El-Guyani, Dkk.

Editor: Abdul Wachid B.S., M.Hum.

Dimensi: 14 × 21 cm, 316 hal.

Tahun terbit: Maret 2009

Harga: Rp.42.000,-

Buku bunga rampai esai Kekuasaan dan Agama di tangan Anda ini merupakan buah pikir dan keterlibatan bahasiswa Indonesia didalam mempersepsi dan memposisikan kekuasaan dan agama, atau sebaliknya, agama dan kekuasaan. Tentu saja, dari kedua sudut pandang tersebut melahirkan nuansa yang berbeda. Buku bunga rampai esai Kekuasaan dan Agama ini bolehlah dikatakan merupakan representasi dari “suara mahasiswa Indonesia” sekalipun dalam arti “sebagian mewakili yang banyak”. Dalam sepanjang sejarah politik Indonesia, suara mahasiswa amatlah menjadi faktor penentu bagi perubahan sosial. Apa yang kita sebut sebagai “Indonesia” ini adalah proses yang tak kunjung usai, dan karena itu, mendengarkan suara mahasiswa menjadi penting sebab dalam pandang rakyat Indonesia, suara mahasiswa itu masih beroleh kepercayaan yang relatif suci dari tercemarnya kepentingan-kepentingan busuk politik. Sekalipun pandanga tersebut amatlah mewakili semangat romantisme. Tapi itulah realitasnya, ditengah gembar-gembor parpol yang menjadikan Indonesia Raya bagaikan sebuah pasar besar, kata-kata slogan, bujukan-bujukan basi, maka apakah sejarah akan berulang? Suara mahasiswa adalah suara hati nurani adalah suara Tuhan…

Agama, Dakwah, Hukum, Islam, Pemikiran Islam, Populer , , ,