Archive

Archive for the ‘Sastra’ Category

Kemahiran Berbahasa Indonesia 1

May 4th, 2010
bahasa-gabung
ISBN: 978-979-3655-80-2

Penulis: Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. & Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Editor: Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. & Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Dimensi: 16 × 24 cm, 188 hal.

Tahun terbit: April 2010

Harga: Rp.39.500,-

Buku seri pertama ini merupakan buku ajar yang membahas teori-teori kebahasaan, mulai dari konsep dan teori mengenai ejaan, kata, frasa, klausa, kalimat, hingga paragraf. Materi buku ini, yang didasarkan pada aspek teorisasi kebahasaan, didasarkan pada kenyataan bahwa setiap komunikasi yang bermediakan bahasa (baik tulis maupun lisan) bisa berjalan dengan baik apabila individu tersebut paham benar dengan aspek-aspek kebahasaan. Tanpa mempunyai pemahaman yang baik terhadap aspek kabahasaan ini, mungkin komunikasi bisa berjalan, tapi aspek komunikatifnya tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, penguasaan aspek kebahasaan menjadi syarat dasar untuk bisa menulis karya ilmiah dengan baik.

Materi mata kuliah bahasa Indonesia 1 ini lebih difokuskan pada komunikasi tulis, terutama dalam menulis karya ilmiah. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa menulis merupakan aspek keterampilan berbahasa yang paling tinggi dan harus diakui paling sulit. Budaya menulis pun menjadi identitas yang melekat pada kalangan akademisi dan intelektual. Oleh karena itu, mahasiswa dan keterampilan menulis menjadi dua hal yang tidak bisa lepas dengan menulis, mulai dari menulis makalah, tugas kuliah, laporan, sampai dengan penelitian tugas akhhir kuliah, yaitu skripsi.

Bahasa, Sastra , ,

Budaya Jawa Mencipta Harmoni Sosial (resensi) *

April 22nd, 2010

Oleh: Muhammad Sabrang**

Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)
Penulis : Moh. Roqib
Pengantar : Ahmad Tohari
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : xv + 258 halaman

Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya demokrasi di Indonesia.

Buku “Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga. Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung (great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut, menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.

Salah simpul yang terus disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan, dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar, dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh keakraban dan keharmonisan.

Simpul berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian, ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.

Dalam mengikat kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada (rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.

Sementara dalam penciptaan kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya, dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji, dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game, bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.

Simpul-simpul tersebut dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama (Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah, budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.

*Dimuat di Kompas Online Tanggal 22 April 2010 pada rubrik Oase

sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/04/22/03090132/Budaya.Jawa.Mencipta.Harmoni.Sosial-14

**Pustakawan.

Pemikiran Islam, Populer, Sastra , , ,

Rendezvous Kekuasaan di Tepi Serayu

March 23rd, 2010

Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.

Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) , Geidurrahman El-Mishry (penulis Novel Bait-Bait Cinta), Gugun El-Guyani (Juara I Lomba Esay), Mahwi Air Tawar (Juara I Lomba Cerpen) dengan dimoderatori oleh Abdul Wahid, B.S, SS, M.Hum (dosen dan sastrawan).

Acara yang digelar di Auditorium STAIN Purwokerto hari Sabtu (14/3) kemarin merupakan puncak dari rangkaian acara tahunan “Lomba Cipta Esay dan Tulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia” yang digelar sekitar Januari 2009 silam. Gelaran tahunan itu dimeriahkan oleh sekitar 400 naskah cerpen dan 317 naskah Esay dari mahasiswa di penjuru tanah air. Berdasarkan penilaian yang dilakukanoleh tim juri : Ahmadun Yosi Herfanda, Heru Kurniawan, Ridwan,M.Ag, dan Abdul Wahid BS, SS, M.Hum, berhasil meraih juara pertama, Gugun El-Guyani, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Gugun menguraikan idenya dalam esay berjudul “Khilafah Versus Demokrasi : Relasi Antara Agama dan Kekuasaan” . Sedangkan untuk lomba cerpen, Mahwi Air Tawar berhak menjadi pemenang I dengan judul cerpennya “Pulung”. Mahwi juga tercatat sebagai mahasiswa UIN Kalijaga Jogakarta. Bersama 27 nominator lainnya, esay dan cerpen yang ada masing-masing dibukukan oleh Penerbit Grafindo Press yang bekerjasama dengan Obsesi Press Publishing.

Dalam bedah buku yang berjalan selama durasi kurang lebih 2 x 60 menit tersebut, perbincangan yang berjalan cukup meriah. Gus Nas (panggilan akrab KH. Nashruddin) mencoba mengungkapkan mengenai filosofi kekuasaan dalam Islam. Sempat diungkapkan juga kegelisahannya dalam melihat hal-hal normatif (simbolis) Islam saja yang kemudian kadang diadopsi oleh para pelaku-pelaku kekuasaan. Bahwa kekuasaan dan kepemimpinan itu berbeda dan harus dipahami, dan diharapkan mampu memaknai kekuasan bukan sebagai sebuah alat penindasan. Di sisi lain, Gugun El-Guyani yang juga aktivis KUTUB – Yogyakarta, menguraikan dengan gamblang mengenai pola kekuasaan pada zaman khulafaur rasyidin. Gugun juga mengkritisi gerakan-gerakan mahasiswa yang tak mampu memberikan bergaining position fragmen kekuasaan di bangsa ini.

Sementara Geidurrahman mencoba membedah beberapa karya cerpen dalam buku “Rendezvous Di Tepi Serayu”. Beliau mengungkapkan banyak mengenai Sastra Religius dan Permasalahannya. Bahwa sastrawan memiliki tanggungjawab yang begitu besar dalam pemasifan nilai pada masyarakat. Dalam perkembangan diskusinya, terdapat kontroversi perbedaan pendapat antara Geidurrahman dan Mahwi Air Tawar dalam penyikapan sastra Religius. Diskusi semakin meriah dengan partisipasi para audiens yang siang itu memenuh ruangan audit.

Acara itu masih berlanjut hingga malam penganugerahan pada pemenang dan nominator lomba Esay dan Cerpen. Nampak para nominator dan pemenang menikmati rangkaian acara yang diselenggarakan dengan apik oleh panitia. Event itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para nominator yang hadir dari berbagai universitas di Indonesia. Rembulan meredup di tujuh belas Rabiul Awal-pun menjadi pertanda akhir rangkaian acara di hari itu. Namun semangat tak akan meredup di masing sanubari untuk terus menghidupkan nyala lilin pena dalam peradaban. Semua harus tetap mengalir…seperti tarian arus serayu. Semoga. (Nta)

Sumber: http://hminews.com/event/rendezvous-kekuasaan-di-tepi-serayu/

Berita, Sastra , ,

Bukan Perempuan

February 13th, 2010
bukan-perempuan-perspektif2
ISBN: 979-3896-139-16

Penulis: Syarif Hidayatullah, Dkk.

Editor: Abdul Wachid BS.

Dimensi: 14 × 21.5 cm, 144 hal.

Tahun terbit: Januari 2010

Harga: Rp.42.500,-

Di dalam proses belajar sekaligus bermain, bermain sekaligus belajar, cerpen memiliki relasi-relasi langsung maupun tidak langsung dengan proses menjadi “manusia dewasa”. Cerpen bukanlah sekedar ruang pelarian dari hidup nyata yang sumpek dan gagal, melainkan cerpen sebagai cermin bolak-balik antara ruang imajinasi dengan ruang kehidupan nyata yang boleh jadi gagal sehingga dengan demikian kita sebagai manusia bisa mengedepankan problem hidup dan lebih berani lagi bermain sambil belajar, belajar sambil bermain.

Tidak terkecuali ketika kita berada dalam ruang hidup yang diidealkan semacam tata nilai adiluhung di kampus, atau didalam sebuah masyarakat dengan kultur yang ideal yaitu agamis, islami, atau dengan istilah lokal yaitu berbudaya santri. Apa kehidupan didalamnya? Menurut siapa kehidupan itu dirumuskan? Demi apa? Mengapa demikian? Ke arah mana kehidupan kita ini?

Happy ending ataukah sad ending? Pantaskah atau tidak pantas? Etiskah atau sebaliknya? Semua penting dalam proses yang bernama hidup.

Populer, Sastra , , ,

Mistisme Cahaya

May 18th, 2009
mistisme-cahaya-kecil
ISBN: 979-3896-111-5

Penulis: Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Editor: Suwito NS., M.Ag.

Dimensi: 14 × 26 cm, 236 hal.

Tahun terbit: April 2009

Harga: Rp.35.000,-

Cahaya dalam pengertian mistik berangkat pada surat an-Nur [24]:35, yang artinya sebagai berikut

Tuhan adalah cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Tuhan adalah seperti sebuah relung yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah Timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya saja (hampir-hampir) menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).

Arti cahaya dalam surah an-Nur adalah “sang cahaya” sebagai salah satu nama indah Tuhan (al-asmaul-husna). Cahaya Nur adalah cahaya ciptaan yang memancar dari Cahaya Tuhan Yang Tak Tercipta. Cahaya (an-Nur) merupakan cahaya yang terpancar dari Cahaya Tuhan Yang Tercipta, yang keberadaannya menyinari suatu obyek menjadi jelas dan terang sehingga mata manusia menjadi bisa melihatnya.

Pengertian cahaya diatas memperlihatkan cahaya sebagai suatu esensi yang berasal dari “Sang Cahaya”, yaitu suatu esensi yang tampak dengan sendirinya, dan juga membuat benda-benda sensual menjadi tampak. Cahaya inilah yang menyebabkan segala obyek wujud di alam semesta ini bisa terlihat karena cahayanya membuat mata bisa mengidentifikasi. Pengertian cahaya, inilah yang menjadi dasar dari pemaknaan cahaya dalam tradisi mistisme Islam, yaitu “cahaya yang membuat alam semesta berada” dan “cahaya yang membuat manusia mengada”. Dalam buku ini, dua filosofi Islam yang dibahas pemikirannya dalam memaknai mistik cahaya adalah al-Ghazali dan Surahwardi.

Islam, Pemikiran Islam, Populer, Sains, Sastra , , , , ,

Rendezvous Di Tepi Serayu

May 18th, 2009
rendezvous-di-tepi-serayu-kecil
ISBN: 979-3896-104-3

Penulis: Mahwi Air Tawar, Dkk.

Editor: Heru Kurniarwan

Dimensi: 14 × 21 cm, 356 hal.

Tahun terbit: Maret 2009

Harga: Rp.40.000,-

Buku bunga rampai cerpen dengan judul Rendezvous di Tepi Serayu ini semula merupakan hasil Lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia, bersudut pandang “Religios Cinta”.

Yang menjadi khas dalam bunga rampai cerpen ini karena buku ini memuat cerpen karya cerpenis justru dari berbagai kultur. Dengan begitu, pastilah sisi-sisi keunikan dari masing-masing latar kultur di dalam memandang “cinta” menjadi khazanah kekayaan tersendiri bagi kita pembacanya.

Cerpen-cerpen di dalam bunga rampai ini menempatkan “cinta” pada posisi yang tepat, suci, hakiki, dengan segala jatuh bangunnya, dengan segaa luka-tawanya, dengan segala erotisitasnya sekaligus religiositasnya.

Bahasa di dalam cerpen-cerpen ini, “enteng tapi berisi”, “enak dibaca dan perlu” untuk mencerahkan hidup kita di tengah gerahnya harga-harga, bahwa “cintalah yang menjadikan kita betah bertahan di dalam kesulitan-kesulitan hidup”, demi keabadian cinta yang kita dambakan bersama.

Mengapa karya sastra yang baik memiliki keabadian? Tersebab karya sastra adalah ruang bagi pertemuan hati kemanusiaan kita, kau dan aku. Dia adalah, sekali lagi, suatu “rendezvous…………”

Sastra , ,

Representasi Simbol Cahaya (Resensi)

May 13th, 2009

Oleh ARIF HIDAYAT

 

Judul Buku: Mistisisme Cahaya

Penulis : Heru Kurniawan

Penerbit : Grafindo dan STAIN Purwokerto Press

Cetakan : Pertama, 2009

Tebal : xiii + 228

 

Filosofi mengenai cahaya sangat menarik perhatian, terutama bagi para pemikir Neo-Platonik. Perspektif mengenai cahaya secara filosofis sebenarnya telah dikemukakan oleh Suhrawardî (dalam Hikayat al-Isyraq) dan al-Ghazali (dalam Miskyat Cahaya-cahaya) beberapa waktu yang lampau. Keyakinan Suhrawardî dan al-Ghazali didasarkan kepada al-Qur’an surat an-Nur dan hadis tentang “Tujuh Puluh Ribu Tabir Cahaya dan Kegelapan”. Uraian-uraian mengenai cahaya seolah tidak ada habis-habisnya, seperti benang yang sangat panjang, bahkan masih menyimpan tabir kehidupan yang kaum rasionalisme tak bisa menjangkaunya.

Cahaya yang dalam pandangan kita berarti penerang kehidupan memiliki sisi lain berdasarkan pemikiran Heru Kurniawan. Adapun pemikiran Heru Kurniawan dalam buku ini merupakan kajian terhadap buku puisi Rumah Cahaya karya Abdul Wachid B.S., yang diinterpretasikan berdasarkan hermeneutika Paul Riceour.

Cahaya dalam buku ini dipandang sebagai simbol yang merepresentasikan esensi religius. Simbol cahaya memiliki beberapa struktur uraian, di antaranya; penandaan yang di dalamnya memiliki sebuah makna langsung, pokok atau literer menunjuk kepada makna tambahan, makna lain yang tidak langsung, sekunder dan figuratif yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama (hal. 27).

Sebab itu, pembuktian mengenai sajak “Rumah Cahaya” sebagai kesadaran “aku-lirik” akan kehadiran Tuhan harus diuraikan secara berlapis-lapis. Yaitu, cahaya sebagai penerang kehidupan, cahaya sebagai petunjuk tuhan, dan cahaya adalah Tuhan itu sendiri yang mewujud di dalam diri “aku-lirik”. Dasar uraian tersebut identik dengan konsepsi ta’wil yang selalu mencari kontekstualisasi dari teks, dan kontekstualisasi dalam kajian ini adalah surat an-Nur ayat 35. Dalam surat itu dijelaskan bahwa Allah adalah Cahaya langit dan bumi, yang dalam pandangan Heru Kurniawan memiliki nilai mistik karena persepsi ini dalam tradisi mistisisme Islam mempunyai kesamaan eksistensi.

Kehadiran cahaya sebagai simbol dalam buku ini dirujuk seperti halnya kerja dari cermin. Cahaya memancar dari matahari ke bintang dan bulan, kemudian dari bintang dan bulan memancar ke bumi sebagai penerang. Tarik-menarik cahaya seperti magnet oleh antarbenda inilah yang menjadikan kehidupan tetap terjaga hingga sekarang. Yang permasalahan dari pembahasan ini adalah menelusuri mula dari cahaya, yaitu dari Yang Ahwal. Pendapat ini dikemukakan oleh Suhrawardî dan al-Ghazali (hal.88).

Kehadiran cahaya seperti itu ketika di bumi mampu merepresentasikan Dzat Yang Agung, yakni melalui wakil-Nya. Dia dikenal oleh makhluk-Nya melalui manifestasi-Nya, sedangkan Dia sendiri tidak terlihat. Kejadian ini sebenarnya bersifat esoteric, namun rahasia secara imanen membutuhkan penyingkapan (kanz makhfîan) untuk dikenal.

Secara substansi, cahaya tidak terlihat seperti halnya kita melihat matahari dengan mata secara langsung, tanpa atmosfer, hanya saja cahaya dapat membuat yang lain terlihat. Dari benda-benda di bumi yang saling memantulkan cahaya itulah kita dapat melihat. Bumi adalah tanah, maka bumi tempat manusia penuh dengan kegelapan yang membutuhkan cahaya dari langit. Dalam kegelapan itulah benda-benda saling memantul cahaya seperti cermin. Terminologi ini dapat kita temukan dalam tradisi mistisisme Islam, yang disebut juga tasawuf atau sufisme.

Barangkali yang menarik perhatian dalam buku ini adalah hubungan antara prespektif cahaya di Timur Tengah dengan cahaya di tanah Jawa. Hubungan ini harus diteliti secara historis yang membutuhkan kronologi masuknya (baca: persebaran) Islam ke Jawa.

Cahaya di Nusantara

Dalam perkembangan tasawuf di Nusantara, Hamzah Fansuri kiranya sufi yang dapat menerima pernyataan Tuhan sebagai Cahaya. Ajaran Wachdatul al-Wujud itu menjadi buktinya, karena ajaran ini memandang Tuhan dan alam semesta menyatu. Cahaya secara eksistensinya bagian dari alam semesta. Karena itu, cahaya dalam kesehariannya memberi kehidupan kepada pohon, rumput, dan hal lain yang terbentang di alam semesta, termasuk manusia. Ajaran Hamzah Fansuri yang termuat di dalam puisi tersebut memberi warna pada alur puisi sufi di Indonesia.

Prespektif cahaya di Timur Tengah diuraikan secara filosofis oleh Suhrawardî dan al-Ghazali. Pemahaman ini terkait dengan cahaya yang menjangkau realitas lahir dan batin. Artinya, cahaya dijelaskan secara fisik dan secara filosofis melalui tamsil. Adapun istilah cahaya dalam perkembangan tasawuf di Nusantara mewujud dalam teks-teks puisi. Bahkan, dalam dekade 1980-an prespektif cahaya dalam puisi lebih merupakan wacana ideologis, mengingat pada waktu itu merupakan kebangkitan puisi sufi di Indonesia.

Pandangan cahaya dalam perkembangan tasawuf di Nusantara dan mengalir dalam perpuisian Indonesia dalam buku ini dimaksudkan sebagai konteks dari sajak “Rumah Cahaya”. Sementara itu, simbol cahaya dalam sajak itu diinterpretasikan sebagai hidayah dari Tuhan atas zaman yang serba virtual ini. ‘Kesendirian rumah cahaya inilah yang bangkit/ mendekap manusiaku’. Manusia yang secara esensinya tanah berarti kegelapan sehingga membutuhkan Tuhan untuk menemukan jati dirinya. Hanya Tuhanlah tempat kembali. Demikianlah uraian-uraian cahaya sebagai simbol memiliki nilai mistik.

Karena kajian ini bersifat tekstual, maka interpretasi didasarkan pada penelitian-penelitian tokoh terdahulu yang kemudian ditautkan dengan paradigma Islam yang lebih spesifik mengenai realitas cahaya sebagai gerak mistik. Lapis-lapis analisis yang diramu dengan sistematika ilmiah ini terkesan seperti “narasi historis” mengenai kedatangan cahaya. Kita dengan nalar dan jiwa yang bersih akan lekas paham mengenai esensi cahaya sebagai simbol, apalagi buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, jelas, dan dengan gaya esai. Buku yang mulanya tesis ini, tidak tampak seperti tulisan ilmiah pada umumnya.

 

Biodata Penulis:

ARIF HIDAYAT, lahir di Purbalingga 7 Januari 1988. Sedang menulis skripsi di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Alamatnya Banjarsari Rt 04/Rw 7 Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah 53353, e-mail: dayat_pr@yahoo.com HP 081911308227.

Sastra , ,

PENGUMUMAN PEMENANG DAN NOMINATOR LOMBA ESAI TINGKAT PELAJAR-MAHASISWA NASIONAL BEM-STAIN PURWOKERTO

January 13th, 2009

 

Setelah dilakukan proses seleksi terhadap 317 esai yang masuk mengikuti lomba, maka dewan juri memutuskan esai yang menjadi pemenang dan nominator adalah sebagai berikut:


JUARA I: “Khilafah Vs Demokrasi: Relasi antara Agama dan Kekuasaan” karya Gugun El-Guyanie dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;

JUARA II: “Islam Versus Islamisme: Reposisi Islam sebagai Agaa Kekuasaan atau Agama Peradaban” karya Ardiyansyah dari Universitas Langlangbuana Bandung;

JUARA III: “Fundamentalisme: Sengkarut Hubungan Iman dan Kuasa” karya Muhammad Ismaiel dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;

 

 Nominator: 

  1. Negara dan Agama dalam Panggung Sejarah Ideologi” karya Syah Azis Perangin Angin dari IAIN Walisongo Semarang;
  2. Menampung Islamisme sebuah Tantangan Demokrasi” karya Djohan Radydari Universitas Indonesia Jakarta;
  3. Agama di Tepi Kekuasaan” karya Ahmad Asroni dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
  4. Power/Knowledge/Corrupt: Telisik Sosiologi Hubungan Kekuasaan dan Agama” karya Firdaus Putra A. dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto;
  5. Agama, Kekuasaan: Suatu Perkwinan yang Dinantikan” karya Salman Rusydie Anwar dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
  6. Politisasi Agama dan Sindrom Kekuasaan” karya Mohammad Takdir dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
  7. Tangga-Nada Kuasa Agama” karya Ahmad Khotim Muzaka dari IAIN Walisongo Semarang;
  8. Pancasila, Kekuasaan, dan Politisasi Agama dalam Negara Budaya Patron-Klien” karya Sayfa Aulia Achidsti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;
  9. Tujuan Kekuasaan dalam Pengentasan Kemiskinan: Ekonomi Ukhuwah dan Strategi Menuju Islamic Welfare State” karya Hamzah Ali dari Universitas Negeri Jakarta;
  10. Distorsi Definisi Cinta dan Seka: dalam Bingkai Kuasa Modernisme-Barat” karya Isni Ekowati dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;
  11. Sebuah Mozaik: Heroisme Berkedok Agama (Antara Religi dan Spiritulitas) “ karya I Made Dwi Ariawan dari Universitas Udayana Bali;
  12. Melacak Jejak Premanisme dalam Politik Indonesia” karya Yogi Setya Permana dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta; 
  13. Kekuasaan, Tuhan, Kematian” karya Abdul Aziz Rasjid dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;
  14. Tubuh Berotak Jamak” karya Ayu Maylani dari Universitas Diponegoro Semarang;
  15. Mewujudkan Parpol Lokal sebagai Representasi Kedaulatan Rakyat di Daerah” karya Adhitya Himawan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;
  16. Kekuasaan dalam Selimut Kolektivisme Naif” karya Riyadlotu Solikhah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;
  17. Politik Kekuasaan dan Agama di Indonesia” karya Muhammad Husni Mubaroq A. dari Universitas Padjajaran dan Parahiyangan Bandung;
  18. Problematika Agama dan Kekuasaan dalam Kemanusiaan” karya Cahyani Ikawoni Putri dari Universitas Airlangga;
  19. Penguasaan atas Nama Agama dalam Kancah Pertempuran InvisiblePerlawanan terhadap Dua Bentuk Penjajahan atas Perempuan” karyaMiftahul Anam dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;
  20. Agama dan Negara dalam Tradisi Pemikiran Politik” karya Moh Fairuz ad-Dailami dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
  21. Islam, Demokrasi, dan Hasrat Kuasa” karya Munawir Aziz dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus;
  22. Agama dan Ruang Perempuan” karya Shinta Ardhiyani U dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto;
  23. Islam dan Nasionalisme” karya Hafid Ismail dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;
  24. Kartini Mandella dan Barack Soekarnoputri” karya Reza Praditya Yudha dari Universitas Muhammadiyah Malang;
  25. Demokratisasi Ekonomi Islam Indonesia” karya Yontomi dari Sekolah Tinggi Islam Negeri Purwokerto;
  26. Perbedaan Interpretasi Agama dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat: Dampak Kepemilikan Kekuasaan” karya Arif Hidayat dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;
  27. Menggenggam Kekuasaan di Atas Agama” karya Vivi Novi Yanah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.

  

Keputusan Dewan Juri di atas bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat. Selanjutnya, para pemenang dan nominator akan dihubungi panitia untuk diundang dalam kegiatan Launching Buku para pemenang dan nominator
dan Serah Terima Penghargaan pada tanggal : 14 Maret 2009

di STAIN Purwokerto, Jl. A. Yani No. 40 A Purwokerto.

Selamat bagi para pemenang dan nominator.

 

Dewan Juri:

Drs. Ahmadun Yosi Herfanda

Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum.

Heru Kurniawan, S.Pd. M.A.  

Agama, Berita, Islam, Populer, Sastra, what`s New , , , , , , , ,

PENGUMUMAN PEMENANG DAN NOMINATOR LOMBA CERPEN TINGKAT PELAJAR-MAHASISWA NASIONAL BEM-STAIN PURWOKERTO

January 13th, 2009
Setelah dilakukan proses seleksi terhadap 434 cerpen yang masuk untuk mengikuti lomba, maka dewan juri memutuskan cerpen yang menjadi pemenang dan nominator adalah sebagai berikut:

 

Juara I : “Pulung” karya Mahwi Air Tawar dari mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;

Juara II : “Prada” karya Agus Hariyanto dari IAIN Walisongo Semarang;

Juara III : “Ada Melati dalam al-Qur’an” karya Eko Triono dari Universitas Negeri Yogyakarta;

  

Nominator:

1.    Rangkaian Sepatu” karya Wita Dwi Maharani Putri dari Universitas Negeri Jakarta;

2.    Lanang Utara” karya Isni Ekowati dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;

3.    Bunga Tidur untuk Istri” karya Azizah Hefni dari Universitas Islam Negeri Malang;

4.    Klise” karya R.D. Zaki F. dari Institut Pertanian Bogor;

5.    Sebuah Paket di Suatu Subuh” karya Salman Rusydie Anwar dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;

6.    Perempuan dalam Beranda” karya Andi Dwi Handoko dari Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta;

7.    Kereta Ini Keretamu Juga, Mayu” karya Fitra Firdaus Aden dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;

8.    Gantung Diri” karya Eka Retnosari dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung;

9.    Kedahsyatan Cinta Layla” karya Ahmad Khairul Anam dari IAIN Walisongo Semarang;

10. Dalam Hujan Kenangan” karya Faisal Syahreza dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung;

11. Kalimat yang Tak Pernah Mati di Ujung senja” karya Matroeny el-Moezany dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;

12. Ruh yang Tergantung di Antara Langit dan Bumi” karya Ummu Rasya dari Universitas Muhammadiyah Uhamka Jakarta;

13. Bidadari Bergaun Luka” karya Guntur Alam dari Universitas Islam ’45 Bekasi;

14. Sebelum Akhir Bulan Desember karya F. Rizal Alief dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;

15. Sepotong Cinta dalam Kardus” karya Abdul Aziz Rasjid dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;

16. Gadis Kecil di Perempatan Lampu Merah” karya Alizar Tanjung dari IAIN Imam Bonjol Padang;

17. Mencarinya di Belantara Ingatan” karya Niduparas Erlang dari Untrita Banten;

18. Tak Semanis Kolak Ibu” karya Saeful Anwar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;

19. Kyai Ali” karya Fairuzul Mumtaz dari Universitas Negeri Yogyakarta;

20. Bocah Surga” karya Siti Machmiyah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;

21. Mengapa Aku Tak Menjadi Bumi” karya Gayuh Istikmal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten;

22. Oki Sandra Yunita” karya Teguh Akbar Hidayat dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;

23. Adzan” karya Johar Dwiaji Putra dari Universitas Brawijaya Malang;

24. Batu-batu Pecah” karya K.F. Fourina dari Universitas Negeri Yogyakarta;

25. Menghakimi Sunyi” karya Abdulloh Amir Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;

26. Istikharah” karya Angg Aryo Wiwaha dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;

27. Karena Cinta Aku Bersyahadat” karya Siti Aminah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.

 

Keputusan Dewan Juri di atas bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat. Selanjutnya, para pemenang dan nominator akan dihubungi panitia untuk diundang dalam kegiatan Launching Buku para pemenang dan nominator
dan Serah Terima Penghargaan pada tanggal : 14 Maret 2009

di STAIN Purwokerto, Jl. A. Yani No. 40 A Purwokerto.

Selamat bagi para pemenang dan nominator.

 

Dewan Juri:

Drs. Ahmadun Yosi Herfanda

Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum.

Heru Kurniawan, S.Pd. M.A. 

 

Berita, Islam, Populer, Sastra, what`s New , , , , , , , ,

LOMBA CIPTA CERPEN RELIGIOSITAS-CINTA TINGKAT MAHASISWA-PELAJAR SE-INDONESIA

October 28th, 2008

Badan Ekskutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto

bekerjasama dengan OBSESI Press Selenggarakan

***LOMBA CIPTA CERPEN RELIGIOSITAS-CINTA TINGKAT MAHASISWA-PELAJAR SE-INDONESIA***

Persyaratan Cerpen yang dilombakan:
(1) Peserta dibatasi emailkan 1 judul cerpen karya terbaiknya, sesuai dengan tema, yakni “
Religiositas-Cinta”;
(2) Cerpen yang diemailkan adalah karya yang belum pernah dipublikasikan di media massa ataupun dalam bentuk buku;
(3) Diemailkan ke lpmobsesi_stpwt@yahoo.com, dan di-CC ke obsesipress@gmail.com ;
(4) Disertakan scan dari Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa sebagai identitas;
(5) Biografi penulis maksimal 1 halaman, dan scan foto penulis;
(6) Naskah diterima dari pengiriman email tanggal 22 Oktober - 22 Desember 2008;
(7) Pemenang yang dipilih adalah Juara I, II, dan Juara III, akan diumumkan pada tanggal 1 Januari 2009, dan penganugerahan hadiah para juara dan nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan dengan penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional Periode ke-2.

Adapun hadiah yang akan diberikan adalah:
(1) Bagi cerpen Juara I, II, dan III, akan mendapatkan hadiah uang sebesar =
Juara I - Rp.700.000, Juara II - Rp.500.000, Juara III - Rp.300.000 ;
(2) Bagi Juara I, II, dan III, akan mendapatkan Piala Tetap dari Ketua STAIN Purwokerto;
(3) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, maka karya cerpennya akan dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit OBSESI Press dalam bentuk eksklusif ;
(4) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, akan mendapatkan SERTIFIKAT JUARA atau SERTIFIKAT NOMINATOR ;
(5) Bagi Juara I, II, III akan mendapatkan masing-masing 3 eksemplar BUKU ANTOLOGI CERPEN “RELIGIOSITAS CINTA” tersebut; dan 27 nominator akan mendapatkan masing-masing 2 eksemplar ;
(6) Penganugerahan hadiah/buku antologi kepada para juara dan nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan dengan penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional Periode ke-2.

Tim Juri Nasional :
(1) Drs. Ahmadun Yosi Herfanda (Sastrawan, dan Redaktur Sastra Budaya koran Republika - Jakarta);
(2) Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Kritikus Sastra) ;
(3) Heru Kurniawan, S.Pd., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Editor) .

Agama, Berita, Islam, Sastra, what`s New , , , , , , , , , , , , ,