<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Penerbit Buku STAINPress.com</title>
	<atom:link href="http://www.stainpress.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.stainpress.com</link>
	<description>Pusat Publikasi STAIN Purwokerto</description>
	<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 03:56:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>STAINPress Reading and Writing Habit Building</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=322</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=322#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 03:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[what`s New]]></category>

		<category><![CDATA[reading]]></category>

		<category><![CDATA[stain]]></category>

		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=322</guid>
		<description><![CDATA[




ISBN: 978-979-3655-84-0
Penulis: Tim STAIN Press
Editor : Suwito, NS, M.Ag.
Dimensi: 16 × 24 cm, 83 hal.
Tahun terbit: Juni 2010
Harga: Call



Visi STAIN Press adalah &#8220;Mercusuar Intelektual Islam&#8221;, sedangkan misinya adalah 1) Menyediakan wadah publikasi hasil kreatifitas civitas akademika STAIN Purwokerto dan masyarakat umum kepada publik, 2) Membangun atmosfir akademik yang berkualitas dengan mengibarkan eksistensi lembaga pendidikan Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height: 254px;" border="0" width="583">
<tbody>
<tr>
<td><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/06/stainpress-reading-and-writing1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-324" title="stainpress-reading-and-writing1" src="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/06/stainpress-reading-and-writing1-300x222.jpg" alt="stainpress-reading-and-writing1" width="300" height="222" /></a><br />
</span></td>
<td><strong>ISBN:</strong> 978-979-3655-84-0</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Tim STAIN Press</p>
<p><strong>Editor : Suwito, NS</strong>, M.Ag.</p>
<p><strong>Dimensi:</strong> 16 × 24 cm, 83 hal.</p>
<p><strong>Tahun terbit:</strong> Juni 2010</p>
<p><strong>Harga:</strong> Call</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Visi STAIN Press adalah &#8220;Mercusuar Intelektual Islam&#8221;, sedangkan misinya adalah 1) Menyediakan wadah publikasi hasil kreatifitas civitas akademika STAIN Purwokerto dan masyarakat umum kepada publik, 2) Membangun atmosfir akademik yang berkualitas dengan mengibarkan eksistensi lembaga pendidikan Islam dan penulisnya, 3) Membangun peradaban yang memiliki basis keadilan dan ketuhanan, melalui ide-ide yang dipublikasikan.</p>
<p>STAIN Press sebagai lembaga penerbitan di bawah naungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto sejak didirikan memiliki otonomi dalam mengambil inisiatif dan keputusan keredaksionalan (penerbitan)</p>
<p>STAIN Press sebagai lembaga penerbitan di bawah naungan STAIN Purwokerto menjadi unsur kelengkapan civitas akademika, yang secara kelembagaan hanya bertanggungjawab kepada Ketua STAIN Purwokerto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=322</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Paradigma Politik NU</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=317</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=317#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 01:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Populer]]></category>

		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>

		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[




ISBN: 979-3477-59-8
Penulis: Ridwan, M.Ag.
Prolog: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U.
Editor Utama: Drs. Moh. Roqib, M.Ag.
Dimensi: 14 × 22 cm, 190 hal.
Tahun terbit: Juni 2004
Harga: Rp.35.000,-



Nahdlatul Ulama (NU) bisa dipahami sebagai jam`iyah atau gerakan sosial yang sulit dipisahkan dari dinamika politik nasional. Organisasi dengan basis komunitas santri terbesar tersebut menyebabkan aktivisnya seringkali terlibat di dalam kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height: 254px;" border="0" width="583">
<tbody>
<tr>
<td><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/paradigma_politik_nu_kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-318" title="paradigma_politik_nu_kecil" src="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/paradigma_politik_nu_kecil-300x218.jpg" alt="paradigma_politik_nu_kecil" width="300" height="218" /></a><br />
</span></td>
<td><strong>ISBN:</strong> 979-3477-59-8<strong></strong></p>
<p><strong>Penulis:</strong> Ridwan, M.Ag.</p>
<p><strong>Prolog: </strong>Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U.</p>
<p><strong>Editor Utama: </strong>Drs. Moh. Roqib, M.Ag.</p>
<p><strong>Dimensi:</strong> 14 × 22 cm, 190 hal.</p>
<p><strong>Tahun terbit:</strong> Juni 2004</p>
<p><strong>Harga:</strong> Rp.35.000,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Nahdlatul Ulama (NU) bisa dipahami sebagai jam`iyah atau gerakan sosial yang sulit dipisahkan dari dinamika politik nasional. Organisasi dengan basis komunitas santri terbesar tersebut menyebabkan aktivisnya seringkali terlibat di dalam kegiatan politik (praktis). Tujuan kenegaraan hingga partai politik hampir tidak mungkin mengabaikan kekuatan dan jaringan sosial jam`iyah ini. Dinamika NU seperti sebuah perahu yang mendayung diantara dua pulau, yaitu sebagai gerakan sosial dan aura politik yang melekat padanya. Karena itu, masa depan NU ditentukan kemampuannya menggunakan biduk secara tepat ditengah golongan politik nasional dan tuntutan sosial sebagai konsekuensi gerakan sosial.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=317</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Perempuan</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=314</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=314#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 01:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kependidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[




ISBN: 979-9552-59-1
Penulis: Drs. Moh. Roqib, M.Ag.
Koordinator Editor: Suwito, M.Ag.

Dimensi: 14 × 20 cm, xxx + 190 hal.
Tahun terbit: Septembr 2003
Harga: Rp.35.000,-



Dengan membaca peta ideologi pendidikan, mudah meletakkan Athiyah al-Abrasyi sebagai pemikir pendidikan kritis. Melihat tema-tema pemikiran pendidikannya seperti pendidikan bagi kaum perempuan ataupun pendidikan untuk kebebasan dan keadilan, memudahkan kita memosisikan ideologi pendidikan Athiyah al-Abrasy, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height: 227px;" border="0" width="614">
<tbody>
<tr>
<td><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/pendidikan_perempuan_kecil.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-315" title="pendidikan_perempuan_kecil" src="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/pendidikan_perempuan_kecil-300x211.jpg" alt="pendidikan_perempuan_kecil" width="300" height="211" /></a><br />
</span></td>
<td><strong>ISBN:</strong> 979-9552-59-1<strong></strong></p>
<p><strong>Penulis:</strong> Drs. Moh. Roqib, M.Ag.</p>
<p><strong>Koordinator Editor: </strong>Suwito, M.Ag.<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Dimensi:</strong> 14 × 20 cm, xxx + 190 hal.</p>
<p><strong>Tahun terbit:</strong> Septembr 2003</p>
<p><strong>Harga:</strong> Rp.35.000,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dengan membaca peta ideologi pendidikan, mudah meletakkan Athiyah al-Abrasyi sebagai pemikir pendidikan kritis. Melihat tema-tema pemikiran pendidikannya seperti pendidikan bagi kaum perempuan ataupun pendidikan untuk kebebasan dan keadilan, memudahkan kita memosisikan ideologi pendidikan Athiyah al-Abrasy, karena sesungguhnya persoalan ketidakadilan sosial, ekspolitasi kelas, diskriminasi gender adalah lebih merupakan kepedulian dari kaum pendidik kritis dan radikal dibanding pendidik konservatif dan liberal. Pandangannya terhadap perempuan dari subordinasi dan marginalisasi akibat ideologi diskriminatif yang dibuat oleh masyarakat di zamannya, sebagai cerminan dari tafsiran keagamaan masyarakat terhadap ajaran agama, mengesankan kepeduliannya persoalan ketidakadilan sosial, gugatan atas diskriminasi berbasis gender, dan persoalan kelas sosial. Sungguhpun demikian, masih banyak yang perlu ditelusuri lebih lanjut bagaimana Athiyah al-Abrasyi menerjemahkan pemikiran pendidikan kebebasan kaum perempuan itu kedalam metode pendidikan ataupun praktik pendidikan kritis yang membebaskan. Sesungguhnya persoalan besar yang sering kita jumpai justru adanya kesulitan banyak pemikir ataupun pengikutnya untuk membentangkan jembatan titian antara paradigma pemikiran pendidikan dengan praktik metode dan relasi guru-murid yang membebaskan di sekolah. Karena antara pemikiran teoritik pendidikan pembebasan erat kaitannya dengan metodologi pendidikan yang membebaskan dalam proses transformasi sosial menuju sistem sosial yang adil dan manusiawi, maka sekali lagi eksperimentasi perlu  diimplementasi.<br />
(Dr. Mansour Fakih)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=314</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kemahiran Berbahasa Indonesia 1</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=305</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=305#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 01:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<category><![CDATA[bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[




ISBN: 978-979-3655-80-2
Penulis: Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. &#38; Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.
Editor: Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. &#38; Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.
Dimensi: 16 × 24 cm, 188 hal.
Tahun terbit: April 2010
Harga: Rp.39.500,-



Buku seri pertama ini merupakan buku ajar yang membahas teori-teori kebahasaan, mulai dari konsep dan teori mengenai ejaan, kata, frasa, klausa, kalimat, hingga paragraf. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height: 310px;" border="0" width="614">
<tbody>
<tr>
<td><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/bahasa-gabung.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-306" title="bahasa-gabung" src="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/bahasa-gabung-300x220.jpg" alt="bahasa-gabung" width="300" height="220" /></a><br />
</span></td>
<td><strong>ISBN:</strong> 978-979-3655-80-2<strong></strong></p>
<p><strong>Penulis:</strong> Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. &amp; Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.</p>
<p><strong>Editor: </strong>Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. &amp; Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.</p>
<p><strong>Dimensi:</strong> 16 × 24 cm, 188 hal.</p>
<p><strong>Tahun terbit:</strong> April 2010</p>
<p><strong>Harga:</strong> Rp.39.500,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Buku seri pertama ini merupakan buku ajar yang membahas teori-teori kebahasaan, mulai dari konsep dan teori mengenai ejaan, kata, frasa, klausa, kalimat, hingga paragraf. Materi buku ini, yang didasarkan pada aspek teorisasi kebahasaan, didasarkan pada kenyataan bahwa setiap komunikasi yang bermediakan bahasa (baik tulis maupun lisan) bisa berjalan dengan baik apabila individu tersebut paham benar dengan aspek-aspek kebahasaan. Tanpa mempunyai pemahaman yang baik terhadap aspek kabahasaan ini, mungkin komunikasi bisa berjalan, tapi aspek komunikatifnya tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, penguasaan aspek kebahasaan menjadi syarat dasar untuk bisa menulis karya ilmiah dengan baik.</p>
<p>Materi mata kuliah bahasa Indonesia 1 ini lebih difokuskan pada komunikasi tulis, terutama dalam menulis karya ilmiah. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa menulis merupakan aspek keterampilan berbahasa yang paling tinggi dan harus diakui paling sulit. Budaya menulis pun menjadi identitas yang melekat pada kalangan akademisi dan intelektual. Oleh karena itu, mahasiswa dan keterampilan menulis menjadi dua hal yang tidak bisa lepas dengan menulis, mulai dari menulis makalah, tugas kuliah, laporan, sampai dengan penelitian tugas akhhir kuliah, yaitu skripsi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=305</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Geometri dan Pengukuran (untuk PGMI dan PGSD)</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=299</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=299#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 00:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kependidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Sains]]></category>

		<category><![CDATA[matematika]]></category>

		<category><![CDATA[PGMI]]></category>

		<category><![CDATA[PGSD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[




ISBN: 978-979-3655-79-6
Penulis: Ifada Novikasari, S.Si., M.Pd.
Mutijah, S.Pd., M.Si.
Editor: Rahmini Hadi
Dimensi: 14 × 21 cm, 208 hal.
Tahun terbit: Maret 2010
Harga: Rp.38.000,-



Buku ini disusun dengan tujuan untuk dapat menambah bahan ajar bagi dosen, dan menjadi acuan perkuliahan bagi mahasiswa calon guru untuk mata kuliah Geometri dan Pengukuran, dan secara umum buku ini dapat digunakan sebagai bahan perkuliahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height: 310px;" border="0" width="614">
<tbody>
<tr>
<td><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/geometri-gabung.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-300" title="geometri-gabung" src="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/geometri-gabung-300x217.jpg" alt="geometri-gabung" width="300" height="217" /></a><br />
</span></td>
<td><strong>ISBN:</strong> 978-979-3655-79-6</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Ifada Novikasari, S.Si., M.Pd.</p>
<p>Mutijah, S.Pd., M.Si.</p>
<p><strong>Editor: </strong>Rahmini Hadi</p>
<p><strong>Dimensi:</strong> 14 × 21 cm, 208 hal.</p>
<p><strong>Tahun terbit:</strong> Maret 2010</p>
<p><strong>Harga:</strong> Rp.38.000,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Buku ini disusun dengan tujuan untuk dapat menambah bahan ajar bagi dosen, dan menjadi acuan perkuliahan bagi mahasiswa calon guru untuk mata kuliah Geometri dan Pengukuran, dan secara umum buku ini dapat digunakan sebagai bahan perkuliahan mahasiswa S1 PGSD.</p>
<p>Garis besar isi buku ini mengulas tentang konsep-konsep bangun datar atau bangun berdimensi dua, dan bangun ruang atau bangun berdimensi tiga. Diawali dari pengenalan titik dan garis, pengukuran, pengenalan bangun, kemudian dilengkapi dengan pembelajarannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=299</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hadis :Semenjak Disabdakan Sampai Dibukukan</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=293</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=293#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 00:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<category><![CDATA[hadis]]></category>

		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<category><![CDATA[ushul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[




ISBN: 978-979-3655-78-9
Penulis: Prof. Dr. H.M. Dailamy, SP.
Editor: Abdul Wachid B.S.
Dimensi: 14 × 21 cm, 388 hal.
Tahun terbit: Maret 2010
Harga: Rp.49.000,-



Hadis yang dalam perkembangannya identik dengan sunnah dan yang kemudian untuk menyebut sesuatu yang disandarkan kepada Nabi yang meliputi perkataan, perbuatan, baik sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul, memang sudah dikenal sejak nabi masih hidup. Diakui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height: 310px;" border="0" width="614">
<tbody>
<tr>
<td><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/hadis-gabung1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-295" title="hadis-gabung1" src="http://www.stainpress.com/wp-content/uploads/2010/05/hadis-gabung1-300x211.jpg" alt="hadis-gabung1" width="300" height="211" /></a><br />
</span></td>
<td><strong>ISBN:</strong> 978-979-3655-78-9<strong></strong></p>
<p><strong>Penulis:</strong> Prof. Dr. H.M. Dailamy, SP.</p>
<p><strong>Editor: </strong>Abdul Wachid B.S.</p>
<p><strong>Dimensi:</strong> 14 × 21 cm, 388 hal.</p>
<p><strong>Tahun terbit:</strong> Maret 2010</p>
<p><strong>Harga:</strong> Rp.49.000,-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Hadis yang dalam perkembangannya identik dengan sunnah dan yang kemudian untuk menyebut sesuatu yang disandarkan kepada Nabi yang meliputi perkataan, perbuatan, baik sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul, memang sudah dikenal sejak nabi masih hidup. Diakui bahwa telah terjadi perbedaan persepsi antara ulama hadis dengan ulama fiqih dan atau ulama Ushul, disekitar kapasitas Nabi dalam kehidupan sehari-hari dan hubungannya dengan tugas sebagai Rasul Allah yang hidup ditengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Perbedaan pandan sebagaimana diatas, menjadikan pengertian hadis pada pandangan ulama hadis menjadi lebih luas dibanding pengertian hadis pada pandangan ulama fiqih maupun ulama ushul. Perlu kiranya dipahami, bahwa perbedaan pandang diantara ketiga kelompok ulama tersebut, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk bersepakat menamai &#8220;hadis&#8221; terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=293</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Jawa Mencipta Harmoni Sosial (resensi) *</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=285</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=285#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 02:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Populer]]></category>

		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<category><![CDATA[harmoni]]></category>

		<category><![CDATA[jawa]]></category>

		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Muhammad Sabrang**
Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)
Penulis : Moh. Roqib
Pengantar : Ahmad Tohari
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : xv + 258 halaman
Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="isi_berita pt_5">
<p>Oleh: <strong>Muhammad Sabrang</strong>**</p>
<p>Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)<br />
Penulis : Moh. Roqib<br />
Pengantar : Ahmad Tohari<br />
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta<br />
Cetakan : 1, 2010<br />
Tebal : xv + 258 halaman</p>
<p>Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya demokrasi di Indonesia.</p>
<p>Buku “Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga. Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung (great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut, menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.</p>
<p>Salah simpul yang terus disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan, dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar, dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh keakraban dan keharmonisan.</p>
<p>Simpul berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian, ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.</p>
<p>Dalam mengikat kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada (rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.</p>
<p>Sementara dalam penciptaan kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya, dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji, dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game, bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.</p>
<p>Simpul-simpul tersebut dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama (Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah, budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.</p>
<p>*Dimuat di Kompas Online Tanggal 22 April 2010 pada rubrik Oase</p>
<p>sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/04/22/03090132/Budaya.Jawa.Mencipta.Harmoni.Sosial-14</p>
<p>**Pustakawan.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=285</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rendezvous Kekuasaan di Tepi Serayu</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=282</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=282#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 04:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<category><![CDATA[rendezvous]]></category>

		<category><![CDATA[serayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini  puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama  dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan  dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.
Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) ,  Geidurrahman El-Mishry (penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini  puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama  dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan  dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.</p>
<p>Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) ,  Geidurrahman El-Mishry (penulis Novel Bait-Bait Cinta), Gugun El-Guyani  (Juara I Lomba Esay), Mahwi Air Tawar (Juara I Lomba Cerpen) dengan  dimoderatori oleh Abdul Wahid, B.S, SS, M.Hum (dosen dan sastrawan).</p>
<p>Acara yang digelar di Auditorium STAIN Purwokerto hari Sabtu (14/3)  kemarin merupakan puncak dari rangkaian acara tahunan “Lomba Cipta Esay  dan Tulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia” yang digelar sekitar  Januari 2009 silam. Gelaran tahunan itu dimeriahkan oleh sekitar 400  naskah cerpen dan 317 naskah Esay dari mahasiswa di penjuru tanah air.  Berdasarkan penilaian yang dilakukanoleh tim juri : Ahmadun Yosi  Herfanda, Heru Kurniawan, Ridwan,M.Ag, dan Abdul Wahid BS, SS, M.Hum,  berhasil meraih juara pertama, Gugun El-Guyani, mahasiswa UIN Sunan  Kalijaga Yogjakarta. Gugun menguraikan idenya dalam esay berjudul  “Khilafah Versus Demokrasi : Relasi Antara Agama dan Kekuasaan” .  Sedangkan untuk lomba cerpen, Mahwi Air Tawar berhak menjadi pemenang I  dengan judul cerpennya “Pulung”. Mahwi juga tercatat sebagai mahasiswa  UIN Kalijaga Jogakarta. Bersama 27 nominator lainnya, esay dan cerpen  yang ada masing-masing dibukukan oleh Penerbit Grafindo Press yang  bekerjasama dengan Obsesi Press Publishing.</p>
<p>Dalam bedah buku yang berjalan selama durasi kurang lebih 2 x 60  menit tersebut, perbincangan yang berjalan cukup meriah. Gus Nas  (panggilan akrab KH. Nashruddin) mencoba mengungkapkan mengenai filosofi  kekuasaan dalam Islam. Sempat diungkapkan juga kegelisahannya dalam  melihat hal-hal normatif (simbolis) Islam saja yang kemudian kadang  diadopsi oleh para pelaku-pelaku kekuasaan. Bahwa kekuasaan dan  kepemimpinan itu berbeda dan harus dipahami, dan diharapkan mampu  memaknai kekuasan bukan sebagai sebuah alat penindasan. Di sisi lain,  Gugun El-Guyani yang juga aktivis KUTUB – Yogyakarta, menguraikan dengan  gamblang mengenai pola kekuasaan pada zaman khulafaur rasyidin. Gugun  juga mengkritisi gerakan-gerakan mahasiswa yang tak mampu memberikan  bergaining position fragmen kekuasaan di bangsa ini.</p>
<p>Sementara Geidurrahman mencoba membedah beberapa karya cerpen dalam  buku “Rendezvous Di Tepi Serayu”. Beliau mengungkapkan banyak mengenai  Sastra Religius dan Permasalahannya. Bahwa sastrawan memiliki  tanggungjawab yang begitu besar dalam pemasifan nilai pada masyarakat.  Dalam perkembangan diskusinya, terdapat kontroversi perbedaan pendapat  antara Geidurrahman dan Mahwi Air Tawar dalam penyikapan sastra  Religius. Diskusi semakin meriah dengan partisipasi para audiens yang  siang itu memenuh ruangan audit.</p>
<p>Acara itu masih berlanjut hingga malam penganugerahan pada pemenang  dan nominator lomba Esay dan Cerpen. Nampak para nominator dan pemenang  menikmati rangkaian acara yang diselenggarakan dengan apik oleh panitia.  Event itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para nominator yang  hadir dari berbagai universitas di Indonesia. Rembulan meredup di tujuh  belas Rabiul Awal-pun menjadi pertanda akhir rangkaian acara di hari  itu. Namun semangat tak akan meredup di masing sanubari untuk terus  menghidupkan nyala lilin pena dalam peradaban. Semua harus tetap  mengalir…seperti tarian arus serayu. Semoga. (<em>Nta)</em></p>
<p><em>Sumber: http://hminews.com/event/rendezvous-kekuasaan-di-tepi-serayu/<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=282</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pancasila, Kekuasaan, dan Politisasi Agama  dalam Negara Budaya Patron-Klien</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=279</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=279#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 04:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<category><![CDATA[Populer]]></category>

		<category><![CDATA[Negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sayfa Auliya Achidsti · 
Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, kita selaku  individu  maupun  kelompok tidak akan pernah bisa lepas dari hubungannya dengan  negara. Negara selaku lembaga tertinggi dari suatu masyarakat yang  mempunyai hukum legal mempunyai otoritas yang kuat untuk membuat dan  memutuskan kebijakan serta mengarahkan tindakan dan mengatur rakyatnya.
Namun, meski [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Oleh Sayfa Auliya Achidsti </em><a href="http://pikiranpemuda.wordpress.com/2009/07/#_ftn1"><em>·</em></a><em> </em></p>
<p>Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, kita selaku  individu  maupun  kelompok tidak akan pernah bisa lepas dari hubungannya dengan  negara. Negara selaku lembaga tertinggi dari suatu masyarakat yang  mempunyai hukum legal mempunyai otoritas yang kuat untuk membuat dan  memutuskan kebijakan serta mengarahkan tindakan dan mengatur rakyatnya.</p>
<p>Namun, meski negara adalah lembaga yang dapat mengatur dan memutuskan  suatu kebijakan yang ditujukan kepada rakyatnya, dalam hal ini negara  sendiri merupakan hasil “buatan tangan” dari rakyatnya itu. Negara  menjadi semacam alat yang muncul karena konsensus tertentu sekumpulan  masyarakat yang menghendaki suatu tujuan. Hal yang juga senada  dilontarkan oleh Roger H. Soltau (1961) bahwa negara adalah alat dan  kekuasaan (wewenang, otoritas) yang dapat mengendalikan suatu  permasalahan atas nama masyarakat.</p>
<p>Oleh sebab itu, negara menjadi <em>means</em> (cara pencapaian) untuk  memperoleh suatu tujuan bersama, yaitu sebuah kesejahteraan umum dari  masyarakatnya dengan aturan-aturan dan pengaruhnya (kekuatan dan  kekuasaan) yang mengikat.</p>
<p>Dengan pengertian seperti itu, maka kedudukan dan hubungan negara  atas rakyat idealnya adalah sebagai tempat di mana terjadi pola  interaksi aktif antarkeduanya untuk menghasilkan keputusan yang sanggup  merepresentasikan semua golongan. Hal terakhir yang disebutkan inilah  yang membutuhkan sifat “negara kuat” untuk muwujudkannya. Karena di  dalam negara yang terbentuk, mengandung bermacam-macam kelompok  (golongan) yang masing-masing dari mereka itu mempunyai suatu pemikiran  dan kepentingan yang berbeda pula.</p>
<p>Tersebutlah Pancasila, sebagai dasar dan  falsafah hidup bernegara  Indonesia. Pancasila yang tercetus dengan latar-belakang keragaman  budaya dirasa pantas memperolah sebutan sebagai suatu anugerah. Hal  ideal pada sila pertamanya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi  landasan hidup dengan bertumpu pada aspek keagamaan. Kemudian diikuti  dengan aspek moral, semangat nasional, toleransi dan kompromi, serta  keadilan. Namun ternyata, Pancasila yang seharusnya menjadi ideologi  bangsa ternyata hanya sebatas mitos.</p>
<p><strong><em>Negeri Pewaris Pluralitas</em></strong></p>
<p>Ini menjadi lebih berat terjadi pada negara-negara yang mempunyai  tingkat keragaman yang cukup tinggi, karena dengan itu berarti kelompok  dan golongan serta pemikiran dan kepentingannya akan lebih beragam pula.  Khususnya di Indonesia, salah satu negara dengan tingkat kemajemukan   tinggi, hal itu terjadi lebih kompleks.</p>
<p>Baca selengkapnya : <a href="http://pikiranpemuda.wordpress.com/2009/07/" target="_blank">klik disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=279</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Otokritik dan Pergulatan Nilai Demokrasi Indonesia (Dalam buku “Renaissans Indonesia” (STAINpress, 2009))</title>
		<link>http://www.stainpress.com/?p=276</link>
		<comments>http://www.stainpress.com/?p=276#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 04:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Populer]]></category>

		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[renaisance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.stainpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sayfa Auliya Achidsti* 
Indonesia, negara kepulauan nan subur dan elok ini rupanya telah  menjadi perhatian dunia sejak lama. Dari sisi ini, terbukti, beberapa  negara dari Eropa pernaha berebut untuk menginvasi dan menjajah negeri.  Kekayaan alamnya menjadi aset penting yang bernilai ekonomi tinggi.  Wilayah dengan banyak pulau ini pun mempunyai daya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>Oleh Sayfa Auliya Achidsti</em><a href="http://pikiranpemuda.wordpress.com/2009/07/#_ftn1"><em>*</em></a><em> </em></p>
<p>Indonesia, negara kepulauan nan subur dan elok ini rupanya telah  menjadi perhatian dunia sejak lama. Dari sisi ini, terbukti, beberapa  negara dari Eropa pernaha berebut untuk menginvasi dan menjajah negeri.  Kekayaan alamnya menjadi aset penting yang bernilai ekonomi tinggi.  Wilayah dengan banyak pulau ini pun mempunyai daya tarik tersendiri dari  sisi budaya. Suku-suku yang teramat beragam disatukan dalam kesatuan  bangsa dan membentuk sebuah negara bangsa.</p>
<p>Yang cukup menarik di sini adalah bagaimana wilayah yang terpisah  laut dan mengisolasi penduduknya sehingga menimbulkan budaya-budaya  tersendiri dapat menyatu baik secara administratif mapun psikologis? Hal  yang amat mengagumkan mengingat hal ini berbeda sekali dengan proses  terbentuknya negara lain pada umumnya.</p>
<p>Negara pada keadaan normal terbentuk sebab beberapa hal esensial.  Yang pertama adalah kesamaan budaya. Hal ini jelas, karena tanpa adanya  kesamaan budaya, suatu konsensus untuk membentuk sebuah negara akan  mustahil atau paling tidak akan sangat sulit mencapainya. Yang  dipengaruhi di sini mencakup beberapa aspek, seperti komunikasi  antarmasyarakat atau kelompok, perbenturan adat dan ideologi, sentimen  dan simpati, dan yang pada akhirnya menyentuh pada aspek kepentingan  antarmasyarakat atau kelompok tersebut. Sedikit perbedaan ideologi dan  bahasa saja misalnya, akan dapat dengan mudah memberikan nuansa  perbedaan fundamen dalam semangat pembentukan negara baru.</p>
<p>Berikutnya, yang dapat mendorong terbentuknya sebuah negara adalah  faktor luar seperti tekanan pihak luar atau penjajahan bangsa lain. Hal  ini pada perkembangannya akan mempengaruhi kerjasama antarkelompok dan  tentunya sedikit banyak akan mengikis kerasnya tembok adat dan budaya  yang membatasinya. Kasus seperti inilah yang terjadi di Indonesia yang  telah melewati masa-masa kolonial beratus tahun.</p>
<p>Penjajahan oleh bangsa lain yang menindas tersebut berimplikasi pada  kesamaan pada sisi psikologi sebagai kaum terjajah. Berbagai gerakan  perlawanan sporadis pun berkembang menjadi semangat untuk mengusir musuh  bersama bangsa, yaitu penjajah.</p>
<p>Puncak perlawanan bangsa di nusantara terjadi menyusul kekalahan  Jepang atas tentara sekutu dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota  negara tersebut. Kaum muda mendesak untuk disegerakannya deklarasi  kemerdekaan dan pada 17 Agustus 1945, Soekarno mengumandangkan  proklamasi kemerdekaan dan sekaligus menjadi dasar semangat yang satu  yaitu semangat berbangsa Indonesia.</p>
<p>Baca selengkapnya: <a href="http://pikiranpemuda.wordpress.com/2009/07/" target="_blank">klik disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.stainpress.com/?feed=rss2&amp;p=276</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
