Archive

Posts Tagged ‘Buku’

Rendezvous Kekuasaan di Tepi Serayu

March 23rd, 2010

Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.

Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) , Geidurrahman El-Mishry (penulis Novel Bait-Bait Cinta), Gugun El-Guyani (Juara I Lomba Esay), Mahwi Air Tawar (Juara I Lomba Cerpen) dengan dimoderatori oleh Abdul Wahid, B.S, SS, M.Hum (dosen dan sastrawan).

Acara yang digelar di Auditorium STAIN Purwokerto hari Sabtu (14/3) kemarin merupakan puncak dari rangkaian acara tahunan “Lomba Cipta Esay dan Tulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia” yang digelar sekitar Januari 2009 silam. Gelaran tahunan itu dimeriahkan oleh sekitar 400 naskah cerpen dan 317 naskah Esay dari mahasiswa di penjuru tanah air. Berdasarkan penilaian yang dilakukanoleh tim juri : Ahmadun Yosi Herfanda, Heru Kurniawan, Ridwan,M.Ag, dan Abdul Wahid BS, SS, M.Hum, berhasil meraih juara pertama, Gugun El-Guyani, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Gugun menguraikan idenya dalam esay berjudul “Khilafah Versus Demokrasi : Relasi Antara Agama dan Kekuasaan” . Sedangkan untuk lomba cerpen, Mahwi Air Tawar berhak menjadi pemenang I dengan judul cerpennya “Pulung”. Mahwi juga tercatat sebagai mahasiswa UIN Kalijaga Jogakarta. Bersama 27 nominator lainnya, esay dan cerpen yang ada masing-masing dibukukan oleh Penerbit Grafindo Press yang bekerjasama dengan Obsesi Press Publishing.

Dalam bedah buku yang berjalan selama durasi kurang lebih 2 x 60 menit tersebut, perbincangan yang berjalan cukup meriah. Gus Nas (panggilan akrab KH. Nashruddin) mencoba mengungkapkan mengenai filosofi kekuasaan dalam Islam. Sempat diungkapkan juga kegelisahannya dalam melihat hal-hal normatif (simbolis) Islam saja yang kemudian kadang diadopsi oleh para pelaku-pelaku kekuasaan. Bahwa kekuasaan dan kepemimpinan itu berbeda dan harus dipahami, dan diharapkan mampu memaknai kekuasan bukan sebagai sebuah alat penindasan. Di sisi lain, Gugun El-Guyani yang juga aktivis KUTUB – Yogyakarta, menguraikan dengan gamblang mengenai pola kekuasaan pada zaman khulafaur rasyidin. Gugun juga mengkritisi gerakan-gerakan mahasiswa yang tak mampu memberikan bergaining position fragmen kekuasaan di bangsa ini.

Sementara Geidurrahman mencoba membedah beberapa karya cerpen dalam buku “Rendezvous Di Tepi Serayu”. Beliau mengungkapkan banyak mengenai Sastra Religius dan Permasalahannya. Bahwa sastrawan memiliki tanggungjawab yang begitu besar dalam pemasifan nilai pada masyarakat. Dalam perkembangan diskusinya, terdapat kontroversi perbedaan pendapat antara Geidurrahman dan Mahwi Air Tawar dalam penyikapan sastra Religius. Diskusi semakin meriah dengan partisipasi para audiens yang siang itu memenuh ruangan audit.

Acara itu masih berlanjut hingga malam penganugerahan pada pemenang dan nominator lomba Esay dan Cerpen. Nampak para nominator dan pemenang menikmati rangkaian acara yang diselenggarakan dengan apik oleh panitia. Event itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para nominator yang hadir dari berbagai universitas di Indonesia. Rembulan meredup di tujuh belas Rabiul Awal-pun menjadi pertanda akhir rangkaian acara di hari itu. Namun semangat tak akan meredup di masing sanubari untuk terus menghidupkan nyala lilin pena dalam peradaban. Semua harus tetap mengalir…seperti tarian arus serayu. Semoga. (Nta)

Sumber: http://hminews.com/event/rendezvous-kekuasaan-di-tepi-serayu/

Berita, Sastra , ,

Bukan Perempuan

February 13th, 2010
bukan-perempuan-perspektif2
ISBN: 979-3896-139-16

Penulis: Syarif Hidayatullah, Dkk.

Editor: Abdul Wachid BS.

Dimensi: 14 × 21.5 cm, 144 hal.

Tahun terbit: Januari 2010

Harga: Rp.42.500,-

Di dalam proses belajar sekaligus bermain, bermain sekaligus belajar, cerpen memiliki relasi-relasi langsung maupun tidak langsung dengan proses menjadi “manusia dewasa”. Cerpen bukanlah sekedar ruang pelarian dari hidup nyata yang sumpek dan gagal, melainkan cerpen sebagai cermin bolak-balik antara ruang imajinasi dengan ruang kehidupan nyata yang boleh jadi gagal sehingga dengan demikian kita sebagai manusia bisa mengedepankan problem hidup dan lebih berani lagi bermain sambil belajar, belajar sambil bermain.

Tidak terkecuali ketika kita berada dalam ruang hidup yang diidealkan semacam tata nilai adiluhung di kampus, atau didalam sebuah masyarakat dengan kultur yang ideal yaitu agamis, islami, atau dengan istilah lokal yaitu berbudaya santri. Apa kehidupan didalamnya? Menurut siapa kehidupan itu dirumuskan? Demi apa? Mengapa demikian? Ke arah mana kehidupan kita ini?

Happy ending ataukah sad ending? Pantaskah atau tidak pantas? Etiskah atau sebaliknya? Semua penting dalam proses yang bernama hidup.

Populer, Sastra , , ,

Model Pengembangan Ekonomi Pesantren

February 3rd, 2010
model-pengembangan-ekonomi-pesantren-kecil1
ISBN: 979-9659-81-0Penulis: Choirul Fuad Yusuf & Suwito, NS

Editor:

Dimensi:

Tahun terbit: Januari 2010

Harga: Rp.35.000,-

Aktifitas ekonomi adalah satu sarana untuk hidup sejahtera (hasanah) yang menjadi anjuran agama. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan ungakapn kada al-faqru an-yakuna kufran (kemiskinan mendekatkan apda kekufuran), maka pemikiran tentang pengembangan ekonomi adalah hal yang sangat penting.

Buku ini merupakan hasil penelitian yang difokuskan pada identifikasi model pengembangan ekonomi pesantren. Oleh karena itu, signifikansi buku ini menyangkut empat hal penting.

Pertama, dengan deskripsi tentang jenis, model, dan karakteristik pengembangan ekonomi pesantren tersebut, buku ini dapat digunakan oleh pesantren dan masyarakat lain yang memiliki kemiripan karakteristik sebagai replikasi model atau approach pengembangan ekonomi berbasis pondok pesantren. Replikasi tersebut meliputi: 1) replikasi teknik analisis potensi ekonomi pesantren yang kemudian melahirkan bidang garapan atau jenis usaha, teknik perekrutan dan pelatihan tenaga ahli (produksi dan pemasaran), 2) replikasi penerapan manajarial yang meliputi sistem/ mekanisme kerja, hubungan antar unit dan lembaga, serta teknik evaluasi dan jaminan mutu produk, 3) replika teknik networking, yang didalamnya adalah teknik perluasan jaringan dan pasar. Kedua, buku ini dapat digunakan oleh pemerintah (Pemda dan Departemen Agama) sebagai bahan untuk membuat kebijakan dan program pengembangan pondok pesantren. Ketiga, buku ini dapat digunakan oleh dunia usaha, baik BUMN, BUMD, maupun pihak swasta sebagai mitra dalam pengembangan sektor usaha riil terkait dengan perluasan usaha dan investasi. Dan keempat, deskripsi yang lengkap dalam buku ini dapat dijadikan salah satu sumber rujukan ilmiah yang sampai saat ini dirasa masih sangat terbatas.

Agama, Ekonomi, Islam, Muamalah, Pemikiran Islam, Populer, what`s New , , ,

Strategi Pembelajaran

May 18th, 2009
strategi-pembelajaran-kecil
ISBN: 979-3896-110-3

Penulis: Drs. Sunhaji, M.Ag.

Editor: Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Dimensi: 14 × 21 cm, 144 hal.

Tahun terbit: Maret 2009

Harga: Rp.35.000,-

Dunia pendidikan pada umumnya dan pembelajaran khususnya, kini selalu menjadi pembicaraan banyak orang selain karena pendidikan merupakan kebutuhan ruhani setiap insan. Pendidikan juga sebagai wahana untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia. Tanpa pendidikan, kehidupan sosial kemasyarakatan akan mengalami kesulitan, minimal sulitnya berkomunikasi dengan sesamanya. Karena begitu krusialnya pendidikan bagi banyak orang, utamanya tentang kualitas pendidikan dimana kualitas pendidikan itu biasanya ditentukan oleh kualitas pembelajarannya. Oleh karena itu, pembelajaran yang merupakan unsur inti dari sebuah pendidikan dinilai berkualitas atau tidak akan ditentukan oleh publik.

Buku sederhana ini merupakan salah satu buku yang membahas tentang persoalan pembelajaran, strategi pembelajaran, pola interaksi, sumber belajar, pengelolaan kelas serta masalah mikro teaching.

Kependidikan, Populer , , ,

Mistisme Cahaya

May 18th, 2009
mistisme-cahaya-kecil
ISBN: 979-3896-111-5

Penulis: Heru Kurniawan, S.Pd., M.A.

Editor: Suwito NS., M.Ag.

Dimensi: 14 × 26 cm, 236 hal.

Tahun terbit: April 2009

Harga: Rp.35.000,-

Cahaya dalam pengertian mistik berangkat pada surat an-Nur [24]:35, yang artinya sebagai berikut

Tuhan adalah cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Tuhan adalah seperti sebuah relung yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah Timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya saja (hampir-hampir) menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).

Arti cahaya dalam surah an-Nur adalah “sang cahaya” sebagai salah satu nama indah Tuhan (al-asmaul-husna). Cahaya Nur adalah cahaya ciptaan yang memancar dari Cahaya Tuhan Yang Tak Tercipta. Cahaya (an-Nur) merupakan cahaya yang terpancar dari Cahaya Tuhan Yang Tercipta, yang keberadaannya menyinari suatu obyek menjadi jelas dan terang sehingga mata manusia menjadi bisa melihatnya.

Pengertian cahaya diatas memperlihatkan cahaya sebagai suatu esensi yang berasal dari “Sang Cahaya”, yaitu suatu esensi yang tampak dengan sendirinya, dan juga membuat benda-benda sensual menjadi tampak. Cahaya inilah yang menyebabkan segala obyek wujud di alam semesta ini bisa terlihat karena cahayanya membuat mata bisa mengidentifikasi. Pengertian cahaya, inilah yang menjadi dasar dari pemaknaan cahaya dalam tradisi mistisme Islam, yaitu “cahaya yang membuat alam semesta berada” dan “cahaya yang membuat manusia mengada”. Dalam buku ini, dua filosofi Islam yang dibahas pemikirannya dalam memaknai mistik cahaya adalah al-Ghazali dan Surahwardi.

Islam, Pemikiran Islam, Populer, Sains, Sastra , , , , ,

Kekuasaan dan Agama

May 18th, 2009
kekuasaan-dan-agama-kecil
ISBN: 979-3896-105-1

Penulis: Gugun El-Guyani, Dkk.

Editor: Abdul Wachid B.S., M.Hum.

Dimensi: 14 × 21 cm, 316 hal.

Tahun terbit: Maret 2009

Harga: Rp.42.000,-

Buku bunga rampai esai Kekuasaan dan Agama di tangan Anda ini merupakan buah pikir dan keterlibatan bahasiswa Indonesia didalam mempersepsi dan memposisikan kekuasaan dan agama, atau sebaliknya, agama dan kekuasaan. Tentu saja, dari kedua sudut pandang tersebut melahirkan nuansa yang berbeda. Buku bunga rampai esai Kekuasaan dan Agama ini bolehlah dikatakan merupakan representasi dari “suara mahasiswa Indonesia” sekalipun dalam arti “sebagian mewakili yang banyak”. Dalam sepanjang sejarah politik Indonesia, suara mahasiswa amatlah menjadi faktor penentu bagi perubahan sosial. Apa yang kita sebut sebagai “Indonesia” ini adalah proses yang tak kunjung usai, dan karena itu, mendengarkan suara mahasiswa menjadi penting sebab dalam pandang rakyat Indonesia, suara mahasiswa itu masih beroleh kepercayaan yang relatif suci dari tercemarnya kepentingan-kepentingan busuk politik. Sekalipun pandanga tersebut amatlah mewakili semangat romantisme. Tapi itulah realitasnya, ditengah gembar-gembor parpol yang menjadikan Indonesia Raya bagaikan sebuah pasar besar, kata-kata slogan, bujukan-bujukan basi, maka apakah sejarah akan berulang? Suara mahasiswa adalah suara hati nurani adalah suara Tuhan…

Agama, Dakwah, Hukum, Islam, Pemikiran Islam, Populer , , ,

Representasi Simbol Cahaya (Resensi)

May 13th, 2009

Oleh ARIF HIDAYAT

 

Judul Buku: Mistisisme Cahaya

Penulis : Heru Kurniawan

Penerbit : Grafindo dan STAIN Purwokerto Press

Cetakan : Pertama, 2009

Tebal : xiii + 228

 

Filosofi mengenai cahaya sangat menarik perhatian, terutama bagi para pemikir Neo-Platonik. Perspektif mengenai cahaya secara filosofis sebenarnya telah dikemukakan oleh Suhrawardî (dalam Hikayat al-Isyraq) dan al-Ghazali (dalam Miskyat Cahaya-cahaya) beberapa waktu yang lampau. Keyakinan Suhrawardî dan al-Ghazali didasarkan kepada al-Qur’an surat an-Nur dan hadis tentang “Tujuh Puluh Ribu Tabir Cahaya dan Kegelapan”. Uraian-uraian mengenai cahaya seolah tidak ada habis-habisnya, seperti benang yang sangat panjang, bahkan masih menyimpan tabir kehidupan yang kaum rasionalisme tak bisa menjangkaunya.

Cahaya yang dalam pandangan kita berarti penerang kehidupan memiliki sisi lain berdasarkan pemikiran Heru Kurniawan. Adapun pemikiran Heru Kurniawan dalam buku ini merupakan kajian terhadap buku puisi Rumah Cahaya karya Abdul Wachid B.S., yang diinterpretasikan berdasarkan hermeneutika Paul Riceour.

Cahaya dalam buku ini dipandang sebagai simbol yang merepresentasikan esensi religius. Simbol cahaya memiliki beberapa struktur uraian, di antaranya; penandaan yang di dalamnya memiliki sebuah makna langsung, pokok atau literer menunjuk kepada makna tambahan, makna lain yang tidak langsung, sekunder dan figuratif yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama (hal. 27).

Sebab itu, pembuktian mengenai sajak “Rumah Cahaya” sebagai kesadaran “aku-lirik” akan kehadiran Tuhan harus diuraikan secara berlapis-lapis. Yaitu, cahaya sebagai penerang kehidupan, cahaya sebagai petunjuk tuhan, dan cahaya adalah Tuhan itu sendiri yang mewujud di dalam diri “aku-lirik”. Dasar uraian tersebut identik dengan konsepsi ta’wil yang selalu mencari kontekstualisasi dari teks, dan kontekstualisasi dalam kajian ini adalah surat an-Nur ayat 35. Dalam surat itu dijelaskan bahwa Allah adalah Cahaya langit dan bumi, yang dalam pandangan Heru Kurniawan memiliki nilai mistik karena persepsi ini dalam tradisi mistisisme Islam mempunyai kesamaan eksistensi.

Kehadiran cahaya sebagai simbol dalam buku ini dirujuk seperti halnya kerja dari cermin. Cahaya memancar dari matahari ke bintang dan bulan, kemudian dari bintang dan bulan memancar ke bumi sebagai penerang. Tarik-menarik cahaya seperti magnet oleh antarbenda inilah yang menjadikan kehidupan tetap terjaga hingga sekarang. Yang permasalahan dari pembahasan ini adalah menelusuri mula dari cahaya, yaitu dari Yang Ahwal. Pendapat ini dikemukakan oleh Suhrawardî dan al-Ghazali (hal.88).

Kehadiran cahaya seperti itu ketika di bumi mampu merepresentasikan Dzat Yang Agung, yakni melalui wakil-Nya. Dia dikenal oleh makhluk-Nya melalui manifestasi-Nya, sedangkan Dia sendiri tidak terlihat. Kejadian ini sebenarnya bersifat esoteric, namun rahasia secara imanen membutuhkan penyingkapan (kanz makhfîan) untuk dikenal.

Secara substansi, cahaya tidak terlihat seperti halnya kita melihat matahari dengan mata secara langsung, tanpa atmosfer, hanya saja cahaya dapat membuat yang lain terlihat. Dari benda-benda di bumi yang saling memantulkan cahaya itulah kita dapat melihat. Bumi adalah tanah, maka bumi tempat manusia penuh dengan kegelapan yang membutuhkan cahaya dari langit. Dalam kegelapan itulah benda-benda saling memantul cahaya seperti cermin. Terminologi ini dapat kita temukan dalam tradisi mistisisme Islam, yang disebut juga tasawuf atau sufisme.

Barangkali yang menarik perhatian dalam buku ini adalah hubungan antara prespektif cahaya di Timur Tengah dengan cahaya di tanah Jawa. Hubungan ini harus diteliti secara historis yang membutuhkan kronologi masuknya (baca: persebaran) Islam ke Jawa.

Cahaya di Nusantara

Dalam perkembangan tasawuf di Nusantara, Hamzah Fansuri kiranya sufi yang dapat menerima pernyataan Tuhan sebagai Cahaya. Ajaran Wachdatul al-Wujud itu menjadi buktinya, karena ajaran ini memandang Tuhan dan alam semesta menyatu. Cahaya secara eksistensinya bagian dari alam semesta. Karena itu, cahaya dalam kesehariannya memberi kehidupan kepada pohon, rumput, dan hal lain yang terbentang di alam semesta, termasuk manusia. Ajaran Hamzah Fansuri yang termuat di dalam puisi tersebut memberi warna pada alur puisi sufi di Indonesia.

Prespektif cahaya di Timur Tengah diuraikan secara filosofis oleh Suhrawardî dan al-Ghazali. Pemahaman ini terkait dengan cahaya yang menjangkau realitas lahir dan batin. Artinya, cahaya dijelaskan secara fisik dan secara filosofis melalui tamsil. Adapun istilah cahaya dalam perkembangan tasawuf di Nusantara mewujud dalam teks-teks puisi. Bahkan, dalam dekade 1980-an prespektif cahaya dalam puisi lebih merupakan wacana ideologis, mengingat pada waktu itu merupakan kebangkitan puisi sufi di Indonesia.

Pandangan cahaya dalam perkembangan tasawuf di Nusantara dan mengalir dalam perpuisian Indonesia dalam buku ini dimaksudkan sebagai konteks dari sajak “Rumah Cahaya”. Sementara itu, simbol cahaya dalam sajak itu diinterpretasikan sebagai hidayah dari Tuhan atas zaman yang serba virtual ini. ‘Kesendirian rumah cahaya inilah yang bangkit/ mendekap manusiaku’. Manusia yang secara esensinya tanah berarti kegelapan sehingga membutuhkan Tuhan untuk menemukan jati dirinya. Hanya Tuhanlah tempat kembali. Demikianlah uraian-uraian cahaya sebagai simbol memiliki nilai mistik.

Karena kajian ini bersifat tekstual, maka interpretasi didasarkan pada penelitian-penelitian tokoh terdahulu yang kemudian ditautkan dengan paradigma Islam yang lebih spesifik mengenai realitas cahaya sebagai gerak mistik. Lapis-lapis analisis yang diramu dengan sistematika ilmiah ini terkesan seperti “narasi historis” mengenai kedatangan cahaya. Kita dengan nalar dan jiwa yang bersih akan lekas paham mengenai esensi cahaya sebagai simbol, apalagi buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, jelas, dan dengan gaya esai. Buku yang mulanya tesis ini, tidak tampak seperti tulisan ilmiah pada umumnya.

 

Biodata Penulis:

ARIF HIDAYAT, lahir di Purbalingga 7 Januari 1988. Sedang menulis skripsi di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Alamatnya Banjarsari Rt 04/Rw 7 Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah 53353, e-mail: dayat_pr@yahoo.com HP 081911308227.

Sastra , ,

Prof. DR. HM. Daelamy SP, Guru Besar Pertama STAIN Purwokerto

February 19th, 2009

Setelah menunggu hampir 12 tahun pasca perubahan status dari fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang tahun 1997, STAIN Purwokerto pada hari Rabu, 18 Februari 2009 mengukuhkan Prof. DR. HM. Daelamy SP sebagai guru besar pertamanya di bidang Ilmu Hadits yang salah satu bukunya diterbitkan oleh STAINPress Puwokerto tahun 2008 dengan judul Hadis-Hadis Bulughul Maram. Pengukuhan guru besar pertama ini merupakan pencapaian akademik prestisius yang bukan hanya bagi penerimanya tetapi juga institusi STAIN Purwokerto. Melalui pengukuhan guru besar ini diharapkan mampu meningkatkan tradisi akademik yang lebih kompetitif, produktif, dan kontributif bagi pengembangan kehidupan masyarakat.

Ilmu Hadits merupakan salah satu bidang kajian dalam tradisi keilmuan Islam. Sebagai sumber ajaran ke dua setelah Al-Qur’an, hadits menempatii posisi yang sangat penting dan strategis dalam Islam. Karena posisi yang penting dan strategis tersebut, kajian-kajian dalam kerangka keislaman dikembangkan dari nilai dan substansi hadits. Namun demikian, tidak semua hadits dapat dijadikan sebagai rujukan dan referensi bagi kehidupan universal. Rentang waktu yang sudah lama, bahasa, dan tradisi yang melingkupi menjadikan pemaknaan hadits musti dilakukan secara dinamis. Karena kepentingan inilah, pengetahuan tentang hadits baik dari sisi riwayat maupun isi sama pentingnya dengan hadits itu sendiri.

Dalam konteks tersebut, pengukuhan Prof. Dr. HM. Daelamy SP menjadi lebih sarat makna. Sebagai guru besar, HM Daelamy SP dituntut untuk lebih mampu membahasakan hadits secara fungsional, akademik, dan kontributif. Hal ini penting karena sesungguhnya hadits disabdakan oleh Nabi Muhammad untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat pada saat itu. Dengan demikia, hadits saat ini buka hanya sebagai teks, tetapi juga sebagai alat/metode yang secara ilmiah dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul Hadis tsulatsiyat dalam Kitab Sunan Al-Tirmidziy, HM Daelamy SP menjelaskan bahwa tidak semua hadits dapat digunakan referensi sebagai sumber hukum Islam. Hadits bisa digunakan hujjah minimal hasan. Lebih jauh HM Daelamy menjelaskann bahwa para periwayat variatif, karena para periwayat tersebut hidup dalam berbagai abad antara 1 sampai 4. Para penulis hadits terkenal  hidup pada abad ke-3 H yang sering dikenal dengan kutubus sittah. dalam waktu 3 abad tersebut, kecil kemungkinan ada satu hadits yang hanya diriwayatkan oleh 3 orang (hadits tsuluutsiyat), namun demikian kemungkinan itu tetap ada. Salah satunya dapat ditemukan dalam kitab Sunan Al-Tirmidziy.

Kitab Sunan Al-Tirmidziy disusun pada abad ke-3 H.Dalam pnelitiannya, HM Daelamy SP menemukan 1 hadits Tsulutsiyat. Artinya adalah bahwa periwayat hadits Tsulutsiyat memiliki usia yang relatif panjang. Hadits Tsulutsiyat tidak serta merta langsung diterima, perluu ada pembuktian yang salah satunya dilakukan dengan melakukan cross check dengan pemberlakuan hadist tersebut ditempat yang lain. Hasil kajian HM Daelamy SP menunjukkan bahwa satu hadits di kita Sunan Al-Tirmidziy dapat dikategorikan sebagai hadits Tsulutsiyat.

Dalam konteks ini, apabila seseorang telah mampu membuktikan dan memahami hadits Tsulutsiyat, Insya Allah seseorang tidak akan melakukan kesalahan dalam memahami hadits-hadits yang lain. Yang dalam pengertian lain, orang akan mampu menggunakan hadits secara tepat dan tidak sembarangan.

Agama, Berita, Fiqh, Hukum, Islam, Pemikiran Islam, Syariah , , ,

BILANGAN DAN ARITMATIKA PGMI & PGSD

January 20th, 2009

 

bilangan-dan-aritmatika ISBN: 979-389-101-7   

Penulis: Mutijah, S.Pd., M.Si., & Ifada Novikasari, S.Si.

Editor: Rahmini Hadi & Heru Kurniawan

Dimensi: 15 × 23 cm, 192 hal.

Tahun terbit: Januari 2009

Harga: Rp.30.000,-

Buku ini disusun sebagai bahan ajar bagi dosen dan menjadi acuan perkuliahan bagi mahasiswa PGMI dan PGSD mata kuliah Matematika. Buku ini mengulas tentang konsep-konsep bilangan dan aritmatika dengan disertai keterampilan dalam menyelesaikan masalah matematika. Diawali dari pengenalan bilangan-bilangan sampai aplikasi dalam aritmatika jam dan aritmatika modular.

Kependidikan, Sains , , , ,

Islam dan Budaya Masyarakat

July 22nd, 2008
ISBN: 979-3655-48-2

Penulis: Drs. H. Khariri, M. Ag.

Editor: Ahmad Dahlan & Abdul Wachid B.S.

Dimensi: 14,5 × 21 cm, 247 hal.

Tahun terbit: 2008

Harga: Rp.37.000,-

Tulisan-tulisan Drs. H. Khariri, M. Ag. (cendekiawan muslim dari Banyumas) di dalam buku ini diseleksi, kemudian dipilah-pilah yang dapat dikompilasikan dalam kedekatan kajian sehingga lahirlah buku dengan judul Islam dan Budaya Masyarakat.

Kajian Islam bisa dikaji dalam ragam aspek seperti: pertama; aspek ibadah, latihan spiritual dan ajaran moral, kedua; aspek sejarah dan kebudayaan, ketiga; aspek politik, keempat; aspek teologi, kelima; aspek hukum, keenam; aspek filsafat, ketujuh; aspek mistisme dan kedelapan; pembaharuan dalam Islam.

Kajian di dalam buku ini sengaja dirujukkan pada aspek-aspek tersebut, yang diklasifikasikan kepada empat bab, yaitu bab pertama pembaharuan yang dikhususkan kepada kajian tokoh, bab kedua teologi, bab ketiga ushul fiqh dan fiqh, dan bab keempat sastra (budaya).

Agama, Dakwah, Ekonomi, Fiqh, Hukum, Ibadah, Islam, Keluarga, Kependidikan, Muamalah, Pemikiran Islam, Populer, Sastra, Syariah, Tarbiyah, Wanita, what`s New , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,