Archive

Posts Tagged ‘jawa’

Budaya Jawa Mencipta Harmoni Sosial (resensi) *

April 22nd, 2010

Oleh: Muhammad Sabrang**

Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)
Penulis : Moh. Roqib
Pengantar : Ahmad Tohari
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : xv + 258 halaman

Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya demokrasi di Indonesia.

Buku “Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga. Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung (great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut, menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.

Salah simpul yang terus disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan, dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar, dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh keakraban dan keharmonisan.

Simpul berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian, ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.

Dalam mengikat kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada (rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.

Sementara dalam penciptaan kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya, dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji, dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game, bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.

Simpul-simpul tersebut dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama (Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah, budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.

*Dimuat di Kompas Online Tanggal 22 April 2010 pada rubrik Oase

sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/04/22/03090132/Budaya.Jawa.Mencipta.Harmoni.Sosial-14

**Pustakawan.

Pemikiran Islam, Populer, Sastra , , ,

Islam dalam Tradisi Begalan

July 5th, 2008
ISBN: 979-3896-86-8

Penulis: Suwito NS.

Editor: Heru Kurniawan

Dimensi: 14 × 21 cm

Tahun terbit: 2008

Harga: Rp.33.000,-

Selain sebagai sarana slametan, begalan berfungsi sebagai edukasi. Artinya, begalan dijadikan sarana untuk transfer of knowledge and values, khususnya nilai-nilai Banyumasan yang santun, toleran, kerja keras, komitmen, setia kawan, dan penghargaan terhadap orang lain. Nilai-nilai Jawa Bayumasan ini dikemas dalam brenong kepang. Brenong kepang adalah alat untuk memainkan tradisi begalan yang didalamnya terdapat seperangkat alat rumah tangga, sebagian besar terdiri peralatan dapur. Brenong kepang yang sarat dengan simbol nilai luhur Banyumasan ini kemudian diurai maknanya oleh juru begal.Urain makna simbolik tersebut menyangkut makna sosial, ekonomi, maupun spiritual terutama bagi para pengantin yang akan memasuki dunia baru yang di dalamnya banyak tantangan. Di samping itu, tradisi ini juga mengingatkan pengantin – pengantin lawas (lama) akan nilai – nilai luhur Jawa Banyumas. Juru begal biasanya memerankan tradisi ini dengan penuh jenaka, sehingga kegiatan ini selalu diminati oleh pengunjung yang hadir di perhelatan pernikahan ini.

Agama, Dakwah, Hukum, Ibadah, Islam, Pemikiran Islam, Populer, Syariah , , , , , ,

Islam Kejawen

July 5th, 2008
ISBN: 979-9659-70-1

Penulis: Ridwan, M. Ag., Suwito NS., M. Ag., Sulkhan Chakim M.M., Supani, M.A.

Dimensi: 12.5 × 19 cm.

Tahun terbit: 2008

Harga: Rp.29.000,-

”Menungsa urip teng dunya niku mboten nyantri nggih nyandi.” Peryataan ini berarti bahwa manusia hidup di alam ini terbagi menjadi dua, yaitu ”nyantri” dan ”nyandi”. Dua istilah ini di gunakan untuk memilah antara kelompok yang notabene muslim dengan pengalaman rukun islamnya yang lima secara utuh, yang sering mereka sebut dengan islam lima waktu, dan kelompok muslim yang pengamalan rukun islamnya hanya tiga ( syahadat, puasa, dan zakat ) tanpa melakukan shalat lima waktu. ”Nyandi” berarti poros keyakinannya mendasarkan pada punden,yaitu tempat-tempat suci. Tempat yang paling dianggap suci adalah makam Kyai Bonokeling.
Kejawen merupakan campuran (sinkretisme ) kebudayaan Jawa dengan agama pendatang, yaiyu Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Di antara percampuran tersebut yang paling dominan adalah dengan agama islam. Kejawen (sinkretisme) adalah percampuran agama Hindu-Budha-Islam. Meskipun berupa percampuran, namun ajaran kejawen masih berpegang pada tradisi-tradisi Jawa asli sehingga dapat dikayakan mempunyai kemandirian sendiri. Agama bagi Kejawen adalah Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan). Konsep penyatuan hamba dengan Tuhan dalam pandangan Islam putihan (santri) dianggap mengarah pada persekutuan Tuhan atau perbuatan syirik. Islam Kejawen sebagai sebuah varian dalam Islam merupakan hasil dari proses dialog antara tatanan nilai Islam dengan budaya lokal Jawa yang lebih berdimensi tasawuf dan bercampur dengan budaya Hindu yang kurang menghargai aspek syari’at,dalam arti yang berkaitan dengan hukum-hukum hakiki agama Islam. Dikalangan para peniliti, istilah aliran kepercayaan. Adapun Koentjaraningrat menyebut aliran Islam Kejawen dengan istilah Islami Jawi. Istilah agama Jawi sesungguhnya merupakan istilah yang diderivasi dari penggolongan masyarakat Jawa secara sosial-agama yang digagas oleh Clifford Geertz dengan tiga varia, yaitu Islam abangan, priyayi, dan santri. Islam Jawi atau Islam Kejawen adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hind-Budha yang cenderung kearah mistik yang bercampur menjadi satu dan diakui sama dengan agama Islam.
Buku ini mengajak Anda membedah anatomi Islam Kejawen, lengkap dengan filosofi, sistem kenyakinan dan ritual yang dilakukan. Dengan membaca buku ini, Anda akan memiliki perspektif yang lebih luas tentang pluralitas keyakinan manusi Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, dan menjadi cermin bening seberapa mendalam religiositas kita masing-masing, guna menghadapi zaman yang semakin memateri ini.

Agama, Dakwah, Hukum, Ibadah, Islam, Syariah , , , , , , , , , , , ,

Harmoni Dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)

July 3rd, 2008
ISBN: 978-979-1277-52-5

Penulis: Drs. Moh. Roqib, M. Ag.

Pengantar: Ahmad Tohari

Editor: Abdul Wachid BS.

Dimensi: 14 × 20 cm, 273 hal.

Tahun terbit: 2007

Harga: Rp.25.000,-

Buku ini berawal dari hasil penelitian pada tahun 2006 yang kemudian disistematisasi kembali dengan beberapa tambahan. Sisi bidik pembahasannya adalah harmoni dalam budaya Jawa. Budaya Jawa dijadikan sebagai fokus kajian, selain karena menjadi background kelahiran dan lingkungan sehari-hari penulis, juga karena budaya ini masih kurang dipahami oleh masyarakatnya sendiri. Pertimbangan lain adalah untuk sosialisasi budaya Jawa agar menjadi referensi dalam kehidupan di saat banyak individu gandrung pada budaya Barat dan idiom-idiomnya. Sebagian orang menganggap kalau berbicara tidak keinggris-inggrisan itu belum intelek, terpelajar dan maju. Jadi keinggris-inggrisan itu dijadikan sebagai standar kemajuan. Bahasa menunjukkan bangsa. Identitas lokal harus dijaga dan dikembangkan sambil merumuskan budaya baru yang lebih baik.

Agama, Islam, Muamalah, Populer, Tarbiyah, Wanita , , , , ,